Saksi Akui Sertifikat Tumpang Tindih

192

MANYARAN – Sidang perkara dugaan korupsi tukar guling tanah (ruilslag) milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang dengan terdakwa Komisaris I PT Handayani Membangun, Sri Endang Handayani kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, kemarin. Dalam sidang tersebut dihadirkan sebagai saksi adalah Mantan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang M Thoriq dan mantan Kasubsi Pengukuran Yudhi Riarso.

Dalam kesaksiannya, M Thoriq menjelaskan bahwa awalnya tidak mengetahui adanya sertifikat yang tumpang tindih. Menurutnya, tugas yang ia lakukan hanyalah melayani setiap permintaan kepengurusan pertanahan yang masuk ke kantornya. “Saya baru tahu ketika tahun 2005 ada komplain dari pegawai Dinas Bina Marga Pemprov Jateng. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata diketahui ada sertifikat ganda pada tanah 3,2 ha di Desa Nyatnyono,” ungkapnya.

Dijelaskan, Tanah seluas 3,2 hektare itu ditindih oleh dua sertifikat hak milik, salah satunya Hak Milik Nomor 1055 seluas 2,1 ha atas nama Haryanto. Sertifikat yang lain terbit sebagai hak milik Karyono. Kedua sertifikat keluar pada 2003. “Atas hal itu, Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang selanjutnya memblokir dua sertifikat tersebut,” imbuhnya.

Kepada Jaksa Penuntut Umum, Thoriq meminta untuk segera menangkap Direktur III PT Handayani Membangun Rustamaji yang kini buron. Sebab dalam persidangan diketahui ternyata Haryanto tidak mengurus sertifikat Hak Milik 1055 atas namanya. Akan tetapi sertifikat itu diurus oleh Rustamaji dengan notaris Wahyu Wibawa. “Hal ini untuk memperjelas permasalahan dalam perkara korupsi ini,” ujarnya.

Sementara itu, Yudhi Riarso dalam kesaksiannya mnegatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengukuran secara normatif sudah sesuai dengan ketentuan berlaku. “Saya baru mengetahui sertifikat tumpang tindih setelah ada kasus yang ditindaklanjuti penegak hukum,” akunya. (fai/zal)