HADAPI MEA : Musyawarah Provinsi IV DPP Aspekindo Jateng di Hotel Santika Premiere, kemarin (11/11). (Nur Chamim/RADAR SEMARANG)
 HADAPI MEA : Musyawarah Provinsi IV DPP Aspekindo Jateng di Hotel Santika Premiere, kemarin (11/11). (Nur Chamim/RADAR SEMARANG)

HADAPI MEA : Musyawarah Provinsi IV DPP Aspekindo Jateng di Hotel Santika Premiere, kemarin (11/11). (Nur Chamim/RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Para pengusaha didorong tidak hanya mengembangkan bisnisnya di dalam negeri, namun juga menembus pasar luar negeri. Menyusul diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 mendatang.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Konstruksi Indonesia (Aspekindo) Jateng, Bambang Wuragil di sela Musyawarah Provinsi IV DPP Aspekindo Jateng di Hotel Santika Premiere, kemarin (11/11). “Saat ini kami seolah ditekankan dan difokuskan untuk membuat benteng pertahanan dalam menghadapi serbuan asing,” ujarnya.

Padahal, ucap Bambang, pasar Indonesia cukup menggiurkan. Bukan tidak mungkin, pasar luar negeri juga sama potensialnya. Karena itulah, menurutnya, para pengusaha selain fokus dengan pasar dalam negeri, juga harus melebarkan sayap dengan menggarap pasar luar. “Produk dan sumber daya manusia kita mampu kok untuk bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, dengan menembus pasar luar negeri, tak hanya produk saja yang bisa terangkat, namun sektor-sektor lain yang terkait juga akan terbawa.

“Misal saja konstruksi, kita tidak hanya akan dilihat dari hasilnya saja, tapi tenaga ahli maupun tenaga terampilnya juga bisa ikut. Jadi Indonesia tidak hanya terkenal TKI atau TKW-nya saja, tapi juga ada tenaga ahlinya yang bekerja di luar negeri,”ungkapnya.

Hanya saja, lanjutnya, hal ini juga harus dibarengi dengan dukungan dari pemerintah, khususnya para pengusaha yang akan memasarkan jasa maupun produk mereka keluar negeri. Dukungan tersebut bisa berupa subsidi maupun regulasi yang memihak pada pengusaha.

“Kalau berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah ya berat. Dari segi suku bunga saja, di luar jauh lebih rendah ketimbang di dalam negeri. Paling tidak, disubsidi atau diperingan. Kalau tidak ya bukan tidak mungkin kita hanya jadi penonton saja,” tandasnya. (dna/ida)