SEMARANG – Menempatkan dua finalis, Jateng gagal merebut medali emas dalam Kejurnas Tinju Senior yang berakhir Minggu (9/11) malam di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulsel. Petinju putri Ari Marsyana yang digadang-gadang ‘pecah telur’ dengan mengalahkan musuh bebuyutannya, Dolince Sanadi (Papua), dalam babak final kelas 64 kg, kembali takluk.

Dengan demikian, dalam tiga kali pertemuan dengan Dolince, petinju Banyumas itu tak pernah menang. Satu finalis lainnya, adalah Willys Boy Riripoy yang harus mengakui ketangguhan Nasrudin (NTB). Turun di kelas 91 kg putra, peraih perak PON 2012 itu tak berdaya menghadapi kombinasi pukulan Nasrudin.

“Menurut pandangan kami, Ari sebetulnya lebih produktif melancarkan pukulan. Sayang dia tak punya power dan pukulannya pun tak mematikan. Kami tak tahu penilaian hakim,” kata Pelatih Jateng Muhar.

Kekalahan Willys dan Ari di final, membuat Jateng harus puas membawa pulang dua medali perak dan satu perunggu. Satu perunggu disumbangkan oleh Musa Cahyadi. Secara umum, Muhar menilai, bahwa persiapan yang minim menjadikan para petinjunya kurang maksimal.

Untuk mengikuti arena kejurnas, idealnya dibutuhkan waktu sekitar dua-tiga bulan. Dia melihatnya, sebenarnya sejumlah atletnya memiliki kualitas teknik yang sama dengan lawan-lawannya, namun kalah stamina. Kondisi fisik yang lemah, berpengaruh pada kualitas pukulan.

Jateng sendiri, kata Muhar, bakal menghadapi tantangan yang berat. Pasalnya, para petinjunya akan bersaing dengan petinju dari DKI Jakarta, NTB dan Bali di Pra-PON Wilayah Tengah tahun 2015 depan. Padahal, para petinju dari ketiga provinsi tersebut, mendominasi di arena kejurnas ini. DKI sendiri menjadi juara umum dengan menyabet lima medali emas. “DI Pra-PON persaingan bakal alot. Kita menghadapi pesaing yang merajai di kejurnas. Tak ada jalan lain, diperlukan pelatda yang panjang agar mendapatkan petinju yang berdaya saing,” pungkasnya ketika dihubungi kemarin. (bas/smu)