Lampu Kuning Atlet Kota Semarang

144

SEMARANG – Hasil kurang memuaskan dicapai oleh atlet-atlet panjat tebing Kota Semarang pada Kejuaraan Provinsi Panjat Tebing Yunior yang telah digelar di Kota Pekalongan, 5-9 November lalu. Di ajang tersebut, Semarang, hanya meraih satu emas, satu perak, dan enam perunggu. Pengkot Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Semarang segera melakukan evaluasi. Satu-satunya emas diraih oleh Muh. Hidayat di nomor lead yunior putra.

Kemudian satu perak didapat dari Hilarius Muwa pada leas Kid A. Sedangkan perunggu dipersembahkan oleh M Hidayat (Speed WR Yunior), Fransiska Dwi (Speed WR Youth A putri)), Nova Amalia (Speed WR Youth A dan Boulder Youth A putri), Hilarius Muwa (Speed Kid A), dan Putri Selinda (Speed Kid A putri). ”Hasil ini memang yang terbaik yang bisa dicapai pemanjat tebing yunior Semarang. Melihat persiapan yang kurang maksimal karena tidak adanya sarana dan fasiltas latihan bagi atlet Semarang. Persaingan di Kota Batik sangat ketat. Melihat perkembangan atlet daerah lain, ini merupakan lampu kuning bagi Semarang,” tutur Ketua Harian FPTI Semarang Argo Gering, Senin (10/11).

Dalam melakukan persiapan untuk kejurprov lalu, atlet Semarang harus ‘mengamen’ dari kampus ke kampus guna meminjam sarana wall climbing untuk latihan. Ini menjadi keprihatinan tersendiri, sebagai Ibu Kota, Semarang sangat tertingggal dengan kota/kabnupaten lain. Seperti pemanjat tebing Blora, Banyumas, Kudus, dan Solo yang begitu dominan di Pekalongan. ”Atlet dari daerah tersebut ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai. Setidaknya, mereka punya alat latihan sendiri khusus untuk atlet proyeksi. Bagaimana mungkin bisa bersaing jika memang kondisi seperti ini. Harus ada persiapan yang matang untuk para yunior ketika akan memasuki senior,” pungkas Argo. (bas/smu)