Kenalkan Seni Islam, Sketsa Sesuai Karakter Anak

572
INDAH : Mashuri menunjukkan hasil kaligrafi siswa bimbingannya yang menyabet juara. (Puput puspitasari/radar kedu)
INDAH : Mashuri menunjukkan hasil kaligrafi siswa bimbingannya yang menyabet juara. (Puput puspitasari/radar kedu)
INDAH : Mashuri menunjukkan hasil kaligrafi siswa bimbingannya yang menyabet juara. (Puput puspitasari/radar kedu)

Mashuri, seorang perajin kaligrafi dengan segudang prestasi. Pria yang tinggal di Magelang ini sangat intens mengenalkan seni Islam tersebut kepada anak-anak sekolah. Seperti apa kisahnya?

Mungkin namanya belum banyak dikenal orang. Tapi tentu saja, karyanya sudah banyak menghiasi dinding rumah umat muslim di Magelang, Wonosobo, Temanggung dan sekitarnya dengan tulisan kaligrafi hasil sentuhan tangannya.

Usaha itu ditekuni sejak di Lampung, tanah kelahirannya. Kemudian Mashuri merantau ke Pulau Jawa. Dia sempat mengadu nasib di Kabupaten Purworejo, Wonosobo dan Magelang.

Tahun 2005, Mashuri memutuskan menikahi Anisah dan menetap di kota jasa itu. “Setelah menikah saya mendirikan sanggar kaligrafi di rumah,” katanya saat ditemui di rumahnya di Kampung Kwayuhan RT 02 RW 9, Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah Minggu (9/11) kemarin.

Tujuan mendirikan sanggar menurutnya untuk syiar. “Mengenalkan seni Islam tentu bukan hal yang mudah,” jelasnya.
“Dan saya juga membaca peluang di sini belum ada sanggar kaligrafi. Sehingga bisa mewadahi anak-anak yang mau lomba,” tambahnya.
Dia berkisah, ilmu kaligrafi itu hanya didapatkan secara otodidak. “Saya hobi menulis Arab dan kenal kaligrafi sewaktu SMA,” imbuhnya.

Pria dua anak ini menguraikan, butuh sekitar 3 tahun untuk bisa meyakinkan masyarakat bahwa dirinya mampu membimbing anak sekolah untuk mencintai seni tulisan Arab itu dan membuat mereka berprestasi.

“Tak berapa lama, saya bertemu seorang guru di salah satu sekolah di Borobudur. Kami ngobrol dan akhirnya nyambung. Guru itu meminta kepada saya untuk membina siswanya yang akan ikut lomba tingkat provinsi. Alhamdulillah, dapat juara pertama kala itu,” ungkap pria yang juga pernah juara 1 lomba kaligrafi tingkat Provinsi Jateng tahun 2005.

Sejak itu, nama Mashuri mulai dikenal di sejumlah lembaga pendidikan di Magelang. “Kemudian tiap menjelang lomba, banyak yang mengirim siswanya berlatih kaligrafi di sini. Nggak cuma dari Magelang, tapi dari Temanggung juga banyak yang dikirim di sini untuk belajar,” aku pria yang juga pernah juara 1 lomba kaligrafi tingkat Provinsi Lampung tahun 2003.

Biasanya, mereka berlatih 3 bulan sebelumnya untuk persiapan lomba, jadwalnya seminggu satu kali. Semakin dekat dengan hari H, maka semakin sering juga latihannya yakni 4 kali pertemuan dalam satu minggu. “Untuk pematangan dan melihat sejauh mana perkembangannya,” tandasnya.

Pria 38 tahun ini, juga mengaku, sekarang kewalahan mengatur jadwal melatih kaligrafi. Sebab sudah punya 24 siswa yang aktif dari 12 sekolah.

“Ada pula guru-guru agama yang latihan di sini. Nanti ilmunya baru ditularkan ke siswanya di sekolah. Ada juga dari umum yang biasanya ikut lomba kaligrafi kategori umum. Rata-rata usianya kurang dari 35 tahun,” urainya yang juga sering mengisi penataran kaligrafi di tingkat kecamatan itu.

Menurutnya, untuk membuat suatu lukisan kaligrafi tak butuh biaya banyak. Tapi yang jadi mahal adalah seninya atau hasilnya. “Buatan anak seperti ini hanya sekitar Rp 50 ribu saja. Tapi nilai seninya itu yang lebih mahal. Kadang ada yang ke sini mau beli Rp 300-500 ribu hasil kaligrafi anak didik saya yang juara. Tapi tidak saya lepas, karena cuma satu dan memang sengaja saya pajang,” terangnya sambil menunjukkan beberapa karya anak yang juara. “Tapi kalau karya saya boleh dibeli. Kan memang dijual,” celetuknya sambil tertawa.

Peraih juara 1 desain batik tingkat Kota Magelang tahun 2010 itu membeberkan, cara mengajarnya cukup simple. Semua ide yang dituangkan itu adalah aplikasi dari pengalamannya mengikuti lomba-lomba yang dipadukan dengan kreatifitasnya.

“Setiap membimbing anak, sketsanya saya sesuaikan dengan karakter anak supaya mudah menangkap apa yang saya berikan,” jelas Mashuri yang pernah juara II seleksi kaligrafi tingkat nasional di Semarang tahun 2010.

Kendati sudah sibuk mengurusi sanggarnya, usaha Mashuri yang lain juga tetap jalan, yakni membuat alat peraga. Bisa dibayangkan bukan main sibuknya dia? Namun dia tetap melakoninya. Walaupun semua pekerjaannya terbilang cukup sulit.

“Tapi bagi saya yang paling sulit itu melatih kesabaran anak-anak saat belajar menulis kaligrafi,” sebutnya.
Padahal menurutnya, menulis kaligrafi itu cukup mudah. Asal telaten, konsentrasi dan sabar. Dia juga menceritakan cara jitu untuk menulis kaligrafi di atas kanvas dengan ornamen yang indah di bagian tepi kanvas.

“Pertama kita buat pola untuk media tulisannya dulu lalu dicat. Sambil menunggu kering didesain pinggir-pinggirnya untuk ditulis kaligrafi,” bebernya.

Setelah kering, baru mulai menulis kaligrafinya. Kalau sudah selesai, mulai menghias bagian tepi tetapi tunggu hingga kering “Untuk pelajar, kanvas ukuran 40 x 60 cm selesai dikerjakan sekitar 3-4 jam tergantung kerumitan dan keterampilan anak itu,” ungkapnya.

Uniknya, dari hasil karya kaligrafi bisa melihat karakter orang. Kalau anaknya terlalu aktif biasanya hasilnya kurang bagus. Bisa dikatakan agak belepotan dan kurang rapi. “Kalau anak yang tenang dan sabar, biasanya garapannya halus. Sebab mereka juga lebih mudah untuk diarahkan,” tegas pria yang juga memproduksi kanvas itu.

Pria yang gemar makan sayuran dan buah cipoka ini menjelaskan, penilaian kaligrafi tidak hanya dari keindahannya, namun juga kaidahnya yang meliputi bentuk tulisan, penataan, kehalusan tulisan. Tak lupa gambar atau motif pemanis yang ada di pinggir kanvas sebagai pendukung tulisan juga ikut dinilai.

Dia berharap, pemerintah bisa memperhatikan keberadaan sanggarnya. Agar seni kaligrafi tak tergusur dengan kesenian-kesenian yang lainnya. “Kalau apresiasi dari lembaga pendidikan sudah sangat bagus. Tapi dari pemerintah belum. Kemarin Pak Wali (Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito, Red) sempat berkunjung ke sini saat mlaku-mlaku tilik kampung. Pak Wali juga meminta SKPD terkait untuk bisa memperhatikan sanggar ini. Saya berharap itu segera terwujud,” ujar suami dari guru SD Negeri 5 Gelangan ini (*/lis).