SEMARANG – Asuransi kini tak lagi hanya dapat dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas. Melalui program asuransi mikro, masyarakat menengah ke bawah juga dapat menikmatinya. Edukasi terkait hal ini mulai disosialisasikan ke masyarakat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kota Semarang Muhammad Rifai, kemarin (10/11) mengatakan, perusahaan-perusahaan asuransi dihimbau oleh OJK untuk memiliki produk bagi masyarakat menengah ke bawah. Asuransi mikro menjadi salah satu yang sedang digalakkan.

Menurutnya, asuransi juga perlu dinikmati oleh masyarakat menengah ke bawah, karena musibah bisa menimpa siapapun. Sedangkan selama ini, asuransi masih fokus membidik kalangan menengah ke atas. Oleh karena itu, diadakan asuransi mikro. “Seperti kebakaran, tiap rumah bisa saja menjadi amukan api. Kalau yang berduit, mungkin dengan mudah membangun kembali, tapi kalau yang menengah ke bawah, ya sudah ludes,” paparnya.

Kemudian, beda dari asuransi mikro dengan non mikro hanya terletak pada jumlah premi serta pelayanan klaim yang lebih dipermudah. Sedangkan syarat-syarat lain, selebihnya sama dengan non mikro. “Premi ada yang mulai dari Rp5ribu untuk jangka waktu sebulan, atau Rp10ribu sudah dapat meng-cover selama 3 bulan,” ujarnya.

Sejauh ini, ucapnya, sambutan masyarakat cukup baik. Terlihat dari banyaknya respons sejak kali pertama program ini dikeluarkan. “Kami banyak menerima tanggapan maupun telpon yang menanyakan seputar asuransi mikro ini,” Tambah Rifai.

Sedangkan terkait premi dengan nominal kecil, perusahaan asuransi mengaku tidak takut merugi. Karena pihaknya optimis, ke depan akan lebih banyak masyarakat yang mengikuti program tersebut. Mulai dari asuransi jiwa hingga benda-benda.

Menurutnya, sebagai permulaan, asuransi mikro ini memang diarahkan lebih kepada asuransi jiwa, kesehatan maupun kecelakaan. Tapi ke depan tidak menutup kemungkinan untuk mengasuransikan benda.

Namun demikian, hingga saat ini, ia mengaku belum dapat menentukan angka pasti, perusahaan asuransi mana saja yang telah menerapkan program ini. “Programnya terhitung baru. Sedangkan Semarang sendiri merupakan cabang-cabang perusahaan asuransi di Jakarta, kalau pusat sudah melaksanakan, yang cabang harusnya juga. Namun kami baru dapat memastikan jumlah paling tidak tahun depan,” tandasnya. (dna/smu)