Ritual Minta Hujan, Tiga Warga Pingsan

112
TURUN-TEMURUN : Warga Desa Tlogopakis saat melakukan ritual minta hujan kemarin. Acara dimeriahkan dengan kesenian kuda lumping. (Taufik hidayat/radar semarang)
 TURUN-TEMURUN : Warga Desa Tlogopakis saat melakukan ritual minta hujan kemarin. Acara dimeriahkan dengan kesenian kuda lumping. (Taufik hidayat/radar semarang)

TURUN-TEMURUN : Warga Desa Tlogopakis saat melakukan ritual minta hujan kemarin. Acara dimeriahkan dengan kesenian kuda lumping. (Taufik hidayat/radar semarang)

KAJEN – Lantaran tidak turun hujan selama 10 bulan terakhir, Minggu (9/10) siang ratusan warga Desa Telogopakis, Kecamatan Petungjkriono, Kabupaten Pekalongan, melakukan ritual minta hujan dengan menampilkan kesenian kuda lumping. Ritual digelar di pelataran Kantor Kecamatan Petungkriono.

Acara ritual yang rutin dilakukan setiap setahun sekali ini digelar siang hari saat matahari sedang tinggi. Ritual kali juga dihadiri juga oleh warga desa lain yang berada di Kecamatan Petungkriono dengan harapan turun hujan dan bisa menyuburkan desa mereka yang selama hampir setahun tidak disiram air hujan.

Sebanyak 30 warga Desa Telogopakis mengawali acara dengan melakukan tarian-tarian yang diiringi oleh gamelan. Tak lama kemudian, 6 pemuda dengan menaiki kuda lumping, memasuki area halaman Kantor Kecamatan Petungkriono. Setelah pawang memberikan makan kembang melati, kepada 6 pemuda, kontan para pemuda menjadi penari piawai dan menjadi pemuda yang tangguh dan kuat karena bisa mengupas kelapa hanya dengan menggunakan gigi.

Saat ritual berlangsung dan beberapa warga desa menikmati kesenian tersebut, tiba-tiba salah satu penari menjadi lepas kendali dengan berlarian di luar area dan mengejar warga yang menggunakan pakaian berwarna merah. Tiga pawang hujan yang berada di area sempat kewalahan untuk menjinakkan penari yang mengejar warga tersebut.

Setelah ritual acara minta hujan digelar, tiga warga yang turut serta dalam pagelaran tersebut tiba-tiba pingsan dan tak lama hujan deras turun. Spontan ratusan warga desa yang berada di halaman Kantor Kecamatan Petungkriono tersebut larut dalam kegembiraan.

Koordinator ritual minta hujan, Selamet Urip Subagyo mengungkapkan ritual yang dilakukan oleh warga Desa Tlogopakis, adalah sebuah budaya yang dilakukan secara turun temurun. Menurutnya, ritual minta hujan yang dilakukannya tidak selalu berhasil dan pernah setelah ritual dilakukan hujan tidak juga kunjung turun. “Kali ini ritual minta hujan berjalan dengan baik, seperti harapan warga. Biasanya sebelum hujan turun ada penari yang pingsan karena kemasukan roh halus. Setelah penari tersebut siuman, maka hujan akan turun,” ungkap Slamet.

Sementara itu, Camat Petungkriono, Agus menjelaskan bahwa sebelum ritual minta hujan dimulai, beberapa desa memulainya dengan menggelar berbagai perhelatan, seperti larung sesaji kerbau bule, serta nyadran sedekah bumi. Menurutnya pagelaran budaya tersebut, mestinya bisa dijadikan sebagai wisata budaya, karena dilakukan secara rutin setiap dua dan empat tahun sekali.
“Untuk ritual minta hujan dilakukan setahun sekali. Namun untuk acara ritual larung sesaji kepala kerbau bule, ke air telaga di Desa Tlogohendro dilakukan 4 tahun sekali. Namun sangat disesalkan, budaya tersebut tidak diketahui oleh publik, yang seharusnya bisa dijadikan sebagai sebagai wisata budaya,” tandas Agus. (thd/ric)