Habiskan Rp 26 Juta, Ditawarkan ke Pemkot Solo

167
INOVATIF: Tezar Tantular (kiri) bersama Kepala Humas Udinus Agus Triyono menunjukkan aplikasi game gemar makan ikan karyanya. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Tezar Tantular (kiri) bersama Kepala Humas Udinus Agus Triyono menunjukkan aplikasi game gemar makan ikan karyanya. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Tezar Tantular (kiri) bersama Kepala Humas Udinus Agus Triyono menunjukkan aplikasi game gemar makan ikan karyanya. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)


Rendahnya konsumsi ikan laut saat ini menjadi inspirasi bagi Tezar Tantular membuat game khusus aplikasi smartphone berbasis Android dengan nama Forikan. Lewat game ini, mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) tersebut mengampanyekan gerakan makan ikan. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO, Pendrikan Kidul

TEZAR Tantular tercengang saat membaca data tingkat konsumsi ikan warga Solo yang rendah. Tak hanya kalangan anak-anak, para orang dewasa pun jarang mengonsumsi makanan berprotein tinggi tersebut. Padahal kandungan gizi ikan sangat tinggi. Bahkan, banyak yang sakit lantaran kekurangan asupan gizi.

Mahasiswa tingkat akhir asal Temanggung ini berpikir untuk mengampanyekan makan ikan. Sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari di bangku kuliah, anggota forum ikan ini pun akhirnya menemukan ide kampanye makan ikan lewat aplikasi game.

Tezar –sapaan akrabnya— membuat game khusus aplikasi smartphone berbasis Android dengan nama Forikan (For Ikan). Game ini bisa dimainkan segala usia mulai anak-anak hingga dewasa.

Dari segi permainan, game ciptaan Tezar ini terbilang cukup mudah. Diceritakan seorang anak laki-laki tengah menangkap ikan yang ingin dikonsumsi. Berbagai pilihan ikan disediakan, hingga sang pemain nantinya bisa mendapatkan nilai tertinggi ketika menangkap jenis ikan yang banyak kandungan protein dan gizinya.

”Sebelum main, jelas ada tutorialnya. Ada penjelasan jenis-jenis ikan dengan kandungan gizi dan vitaminnya yang tinggi. Untuk bermain game ini cenderung mudah, pemain tinggal mengarahkan menangkap ikan yang diinginkan,” jelasnya didampingi Kepala Humas Udinus, Agus Triyono.

Tezar mengakui, game yang dibuat memakan waktu cukup lama, hingga 4 bulan. Selain itu, juga membutuhkan biaya cukup tinggi mencapai Rp 26 juta. Koran ini sempat mencoba aplikasi game Forikan tersebut. Meski bisa dibilang sudah sempurna, Tezar mengaku belum puas dengan hasil karyanya tersebut.

”Kebetulan saya hanya mendesainnya saja. Jadi, harus sinkron sama programmer-nya. Terkadang komunikasi atau keinginan saya tidak sinkron. Sehingga saya belum puas dengan game yang saya buat. Kalau dana, murni dari saya sendiri,” kata mahasiswa yang pernah mengikuti pertukaran pelajar tentang animasi di Jepang ini.

Ke depan, Tezar mengaku akan bekerja sama dengan Lembaga Studi Desain (Lestude) Solo, dan membuat proposal pengajuan pengembangan game Forikan kepada Pemkot Solo untuk mendukung kampanye gemar makan ikan yang dilakukan.

”Rencana terdekat sih menawarkan ke Pemkot Solo untuk dikembangkan. Tapi, kampanye gerakan makan ikan lewat game ini bisa juga saya ajukan ke Provinsi Jateng,” katanya.

Dosen pembimbing Tezar, Auria F.Y. mengaku bangga dengan kepedulian anak didiknya dalam mengampanyekan gemar makan ikan lewat aplikasi game. Ia berharap agar pemerintah bersedia mengembangkan game yang dibuat lantaran dinilai tepat sasaran. Pasalnya, saat ini pencinta game rata-rata anak-anak dan remaja, sehingga tepat dan efektif untuk kampanye gemar makan ikan.

”Menurut saya kampanye makan ikan lewat game lebih mengena ke anak-anak yang butuh asupan gizi dan vitamin yang baik,” ujarnya.

Selama membimbing Tezar, ia mengaku terkadang anak didiknya menemui kesulitan ketika harus memprogram game yang ingin dibuat. ”Memang (game yang dibuat) belum sempurna. Saya berharap pemerintah mau menyisihkan sedikit dana untuk menyempurnakan game yang dibuat Tezar tersebut,” harapnya. (*/aro/ce1)