MERASA TAK DIURUSI : Sofiyah, pasien yang diduga korban malapraktik ini sedang dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 MERASA TAK DIURUSI : Sofiyah, pasien yang diduga korban malapraktik ini sedang dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MERASA TAK DIURUSI : Sofiyah, pasien yang diduga korban malapraktik ini sedang dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dugaan malapraktik kembali menggelayuti dunia kedokteran. Kali ini, korbannya adalah Sofiyah, 31, warga Arcawinangun Purwokerto. Yakni, pasien melahirkan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Margono Soekardjo, Purwokerto, yang kini dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang. Sofiyah juga sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) Ananda Purwokerto, namun kesehatan warga RT 05/RW 06 Kelurahan Purwokerto Timur tidak kunjung membaik.

Saat berada di RSUP dr Kariadi, pasien BPJS ini menuturkan bahwa pasca melahirkan normal bayi ketiga dengan berat 3,1 kilogram pada 24 September 2014 pukul pukul 00.42 di RSUD Margono Soekardjo, mengalami hal aneh. Tepatnya sekitar satu minggu setelah melahirkan. Dirinya hanya bisa mengeluarkan kotoran besar lewat vagina.

Atas kejadian yang menimpa Sofiyah tersebut, keluarga tidak terima. Sehingga mengajukan kasus tersebut ke proses hukum dan melaporkan kejadian tersebut ke Polres Banyumas.

”Rencananya, dari pihak kepolisian akan memanggil dokter penanggung jawab dari RSUD Margono Soekardjo, dr Daliman SPOG. Diduga persalinan ini dilakukan oleh dokter yang lagi koas di rumah sakit tersebut,” kata Djoko Susanto, kuasa hukum Sofiyah saat dikonfirmasi Radar Semarang, Jumat (7/11) kemarin.

Bagai jatuh tertimpa tangga. Sofiyah yang kini dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang, juga kurang mendapatkan perhatian. Lantaran, pihak RSUD Margono Soekardjo yang sempat merawat perempuan tersebut seolah lepas tangan dan tidak memberikan rekomendasi memadai kepada pihak rumah sakit rujukannya.

”Kami dari Purwokerto menempuh perjalanan sekitar 5 jam dan diantar oleh ambulans milik RSUD Margono. Tapi, saat sampai di sini pukul 18.30, kami tidak segera diurus oleh pihak rumah sakit,” keluh kakak pasien, Slamet, 34, saat ditemui di bangsal RSUP Dr Karyadi, Jumat (7/11).

Slamet menjelaskan, minimnya komunikasi antara pihak RSUD Margono dengan RSUP dr Kariadi membuat adiknya telantar. Padahal, sebelumnya RSUD Margono menyatakan sudah berkoordinasi dengan RSUP dr Kariadi dan disiapkan kamar. Justru yang terjadi sebaliknya. Begitu sampai di RSUP dr Kariadi, tidak mendapatkan pelayanan apa pun dan harus menunggu hingga pukul 23.00 agar dapat kamar memadai.

”Sebelumnya, kami juga berdebat dengan petugas rumah sakit. Beberapa saat kemudian adik saya baru diizinkan masuk IGD dan dipindahkan ke bangsal kelas II keesokan harinya. Tapi setelah diambil sampel darahnya. Sampai sekarang tidak dikasih infus, hanya dikasih susu. Harapan saya, adik saya bisa ditangani maksimal oleh dokter di RSUP dr Kariadi supaya lekas sembuh seperti semula,” katanya penuh harap.

Sementara itu, Humas RSUP dr Kariadi, Darwito mengaku masih menelusuri penyakit pasien tersebut. ”Pasien masih dalam tahap observasi dan masih penelusuran,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)