Tekan Inflasi Hingga Akhir Tahun

150

SEMARANG-Rencana penyesuaian atau kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang akan ditetapkan pemerintahan baru, akan menambah tekanan inflasi di Jateng. Bahkan, secara langsung dan tidak langsung akan memengaruhi pencapaian inflasi hingga akhir tahun.

“Karena itulah, Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng akan memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah. Harapannya, agar dapat menjaga stabilitas inflasi dan meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan,” kata Marlison Hakim, direktur dari jajaran Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V, kepada Radar Semarang, kemarin.

Sedangkan inflasi secara bulanan pada Oktober, katanya, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi Oktober 2014 tercatat sebesar 0,52 persen (mtm), meningkat dari 0,22 persen (mtm) pada bulan sebelumnya dan lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (0,20 persen mtm). Secara tahunan, inflasi tahunan Jateng tercatat 5,01 persen (yoy) stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya 5,00 persen (yoy). “Kenaikan inflasi pada Oktober disebabkan oleh kenaikan inflasi kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices),” tandasnya.

Pada Oktober, tercatat inflasi administered prices sebesar 1,22 persen (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan inflasi periode yang sama tahun sebelumnya 0,39 persen (mtm). Secara tahunan inflasi administered prices tercatat sebesar 7,57 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan historikalnya yang sekitar 3-4 persen.

“Meningkatnya tekanan inflasi administered prices didorong oleh kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) serta dampak lanjutan dari kenaikan harga LPG 12 kg pada bulan sebelumnya. Harga LPG 3 kg juga ikut naik di beberapa daerah. Komoditas bahan bakar rumah tangga memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,06 persen pada inflasi Oktober,” terangnya.

Inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile foods naik, namun masih terkendali. Inflasi volatile foods Oktober 2014 tercatat sebesar 0,29 persen (mtm), atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,16 persen (mtm). Namun, inflasi tahunannya yang tercatat 4,38 persen (yoy), masih lebih rendah dibandingkan dengan historikalnya yang sekitar 7-8 persen (yoy).

“Komoditas cabe merah dan beras, menyumbang inflasi terbesar. Sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya komoditas cabe merah dan beras menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, dengan kenaikan inflasi yang lebih besar di Oktober 2014. Hal ini terkait musim kemarau yang lebih lama dibandingkan dengan tahun 2013,” jelasnya.

Dari sisi permintaan, inflasi inti stabil dibandingkan dengan bulan lalu. Inflasi kelompok inti tercatat 0,37 persen (mtm) atau tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan bulan September sebesar 0,39 persen (mtm). Sementara inflasi tahunannya naik dari 4,24 persen (yoy) menjadi 4,37 persen (yoy). Stabilnya inflasi bulanan kelompok inti didukung ekspektasi inflasi yang terjaga di tengah permintaan domestik yang cenderung stagnan.

“Risiko inflasi di bulan November diperkirakan lebih rendah dibandingkan Oktober. Kendati inflasi volatile foods diperkirakan naik. Lantaran stok beras Bulog yang memadai, yaitu mencukupi hingga hampir 8 bulan kebutuhan operasional diperkirakan dapat menjaga stabilitas harga beras,” terangnya. (ida)