DILANJUT: Terdakwa Susanto Wedi mendengarkan majelis hakim saat membacakan amar putusan selanya di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
DILANJUT: Terdakwa Susanto Wedi mendengarkan majelis hakim saat membacakan amar putusan selanya di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
DILANJUT: Terdakwa Susanto Wedi mendengarkan majelis hakim saat membacakan amar putusan selanya di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin.
(AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang menolak eksepsi atau nota keberatan yang diajukan mantan Pimpinan Cabang Utama Bank Jateng, Susanto Wedi, bersama penasihat hukumnya terkait kasus dugaan korupsi pengadaan aplikasi software inti perbankan Core Bangking System (CBS) Bank Jateng. Karena itu, pemeriksaan perkara yang bersangkutan akan tetap dilanjutkan.

”Mengadili, menyatakan menolak seluruhnya eksepsi dari terdakwa dan penasihat hukumnya. Memerintahkan Jaksa Penuntut Umum untuk melanjutkan perkara,” kata hakim ketua Gatot Susanto saat membacakan amar putusan selanya di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (6/11).

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai keberatan terdakwa yang menyatakan surat dakwaan tidak cermat karena mendasarkan penyidikan yang tidak sah, dan tidak beralasan hukum. Meski surat perintah penyidikan (Sprindik) yang dikeluarkan Kepala Kejati Jateng Nomor PRINT-10/O.3/Fd.1/03/2014 tertanggal 4 Maret 2014 menyebutkan lingkup penyidikan perkara atas nama terdakwa tempos delicti adalah pada 2006, sehingga tidak bisa dipakai sebagai dasar penyidikan untuk perbuatan hukum pada 2005 maupun 2007 sampai 2011 hanyalah persoalan teknis saja.

”Bagi majelis hakim, hal tersebut tidak menjadi kendala,” ujar Gatot didampingi hakim anggota, Dwi Prapti dan Kalimatul Jumro.
Sementara eksepsi terdakwa yang menyatakan bahwa surat dakwaan error in persona di mana dalam surat perjanjian kerja sama Nomor 1315/HT/01.02/2006 tanggal 15 Maret 2006 menunjukkan kapasitas terdakwa selaku wakil yang ditunjuk pihak pertama dalam hal ini Hariyono selaku Direktur Utama dan Ispriyanto selaku Direktur Umum, majelis hakim menilai hal tersebut telah masuk pokok perkara. Karena itu, harus dibuktikan dalam persidangan. ”Eksepsi yang diajukan terdakwa haruslah dinyatakan ditolak seluruhnya,” katanya.

Atas putusan tersebut, majelis hakim memerintahkan JPU untuk melanjutkan perkara dengan menghadirkan saksi-saksi pada persidangan selanjutnya. ”Sidang ditunda dan dilanjutkan kembali pada Kamis (13/11) depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi,” papar Gatot sebelum mengakhiri persidangan.

Untuk diketahui, Susanto Wedi diduga telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan merugikan negara sebesar Rp 3,1 miliar. Atas perbuatannya, ia dijerat dengan dakwaan subsideritas. Primer, melanggar ketentuan pasal 2 jo pasal 18 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan korupsi jo pasal 55 ayat 1 KUHP. Subsider, melanggar ketentuan pasal 3 UU yang sama.

Selain Susanto Wedi, Kejati Jateng juga menetapkan tersangka lain, yakni Bambang Widiyanto, mantan Direktur Operasional Bank Jateng. Surat perintah penyidikan terdahap dirinya terbit dengan nomor Print-9/O.3/Fd.1-03/2014 tertanggal 4 Maret 2014. Pada saat kasus ini terjadi, Bambang adalah Kepala Divisi Akuntansi dan Pusat Data Elektronik Bank Jateng. Saat ini yang bersangkutan belum juga ditahan lantaran sakit. Selain itu, penyidikannya juga belum selesai. (fai/aro/ce1)