SEMRAWUT: Jalan di belakang Pasar Peterongan yang akan menjadi tempat relokasi pedagang selama pembangunan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 SEMRAWUT: Jalan di belakang Pasar Peterongan yang akan menjadi tempat relokasi pedagang selama pembangunan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMRAWUT: Jalan di belakang Pasar Peterongan yang akan menjadi tempat relokasi pedagang selama pembangunan. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

PETERONGAN – Pasar Peterongan, Semarang Selatan segera dipugar total. Saat ini, Dinas Pasar Kota Semarang tengah mempersiapkan relokasi sedikitnya 1.608 pedagang setempat. Para pedagang sendiri enggan direlokasi jika tempatnya jauh dari Pasar Peterongan. Pasalnya, mereka khawatir pendapatan akan berkurang lantaran kehilangan pelanggan.

Renovasi Pasar Peterongan Baru akan menghabiskan dana sekitar Rp 35 miliar. Biaya pembangunan tersebut berasal dari APBD murni Kota Semarang 2015. Pasar akan dibangun dua lantai di atas lahan seluas 3.700 meter persegi, yang diperkirakan mampu menampung 1.500 pedagang.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoko Sardjoko, menyampaikan, saat ini kondisi fisik Pasar Peterongan sangat memprihatinkan. Banyak bangunan atap pasar yang bocor, dan mengalami kerusakan di sana-sini. Selain itu, lantai II pasar ini banyak yang kosong, dan justru dijadikan tempat tinggal para gelandangan dan tunawisma. Karena itu, Pemkot Semarang pada 2015 akan melakukan pembangunan total pasar yang sudah berusia lebih dari setengah abad ini.

”Pak Wali sudah menyetujui dan mendukung kalau Pasar Peterongan dibangun. Sebab, atap bangunan pasar juga banyak yang ambrol. Bahkan nantinya saya sendiri akan terjun langsung ke dewan supaya anggaran itu disetujui. Pak Wali juga sudah mengondisikan dengan dewan,” katanya kepada Radar Semarang saat sosialisasi kepada para pedagang di kantor Pasar Peterongan, Kamis (6/10).

Dikatakan, anggaran pemugaran sudah ada, mencapai Rp 35 miliar lebih. Hanya saja, anggaran itu belum resmi dan masih diproses. ”Mudah-mudahan dewan menganggarkan sebesar itu. Sementara ini jumlah pedagang yang masuk dalam data mencapai 652 pedagang di dalam Pasar Peterongan, ditambah PKL mulai Sri Ratu hingga bangjo Metro sebanyak 118 pedagang. Selain itu, di Lampersari sementara tercatat 300 pedagang. Sehingga nantinya pedagang bisa masuk semua,” paparnya.

Ditambahkan, anggaran pembangunan Pasar Peterongan berasal dari satu tahun anggaran. Sementara ini, Dinas Pasar tengah melakukan berbagai persiapan relokasi, pembongkaran bangunan lama, serta pelelangan yang diharapkan sudah ada pemenang tender lelang pada Januari-Februari 2015. Pembangunan fisik sendiri diperkirakan memakan waktu 7-8 bulan.

”Kalau waktu pengerjaan pembangunan belum bisa dipastikan, namun kami sudah mempersiapkan jadwal pelelangan, kalau bisa Desember 2014. Sebab, nantinya masih ada proses berikutnya menunggu pememang tender lelang. Paling tidak Januari atau Februari 2015 sudah ada pemenangnya. Sehingga bulan April 2015 sudah mulai bisa dikerjakan,” terangnya.

Untuk tempat relokasi pedagang, pihaknya memiliki alternatif yakni di Lapangan Kedondong, Lamper Tengah. Namun alternatif tempat tersebut mendapat penolakan dari para pedagang, karena dinilai terlalu jauh. Para pedagang menginginkan tempat relokasi tidak jauh dari Pasar Peterongan. Sebab, mereka khawatir akan kehilangan pelanggan.

”Karena lapangan Kedondong ditolak, maka para pedagang nantinya akan ditempatkan di lapak Pasar Inpres yang berada di belakang Pasar Peterongan yang memiliki dua lantai. Nantinya kami juga akan membuatkan lapak dasaran sementara di belakang Pasar Inpres supaya pedagang bisa berjualan di tempat itu,” katanya.

Sedangkan lantai dua nantinya dibuatkan jalan tembus, sehingga pedagang bisa berjualan di sekitar Pasar Peterongan. ”Jadi namanya membangun juga harus ada pengorbanan. Kalau pembangunan Pasar Peterongan Baru nanti bisa cepat dimulai, pastinya para pedagang nantinya juga bisa cepat menempati,” ujarnya.

Seorang pedagang, Karti, 48, mendukung adanya pemugaran Pasar Peterongan. Hanya saja, dia tidak ingin direlokasi jauh dari Pasar Peterongan. Pedagang asal Klaten yang sudah puluhan tahun menempati lapak di Pasar Peterongan ini khawatir pendapatannya berkurang, karena banyak kehilangan pelanggan.

”Saya sudah 30 tahun berjualan di tempat ini, sebelum Sri Ratu Peterongan berdiri. Bahkan saya dulunya juga memiliki ruang tempat di dalam pasar ini, dan harus saya tinggalkan berpindah di depan karena di dalam pasar tidak laku. Kalau bisa, nantinya relokasi tidak usah jauh-jauh dari pasar. Apalagi depan Pasar Peterongan ada pasar pagi. Sehingga kemungkinan pembeli memilih belanja di pasar pagi,” katanya.

Aris, pedagang lainnya berharap pemugaran Pasar Peterongan dilakukan setelah Lebaran 2015, dengan alasan supaya para pedagang bisa mendapatkan keuntungan di momen tersebut. Namun harapan itu tidak bisa dikabulkan oleh Dinas Pasar, dengan alasan waktu pembangunan sudah ada target waktunya sesuai tahun anggaran. Sehingga kalau melebihi tahun anggaran, bisa tersandung hukum. (mg9/aro/ce1)