BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti ganja asal Medan yang disita. (Kanan) Tersangka Muhammad Yusuf dan Eko Sugiatno saat gelar perkara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti ganja asal Medan yang disita. (Kanan) Tersangka Muhammad Yusuf dan Eko Sugiatno saat gelar perkara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti ganja asal Medan yang disita. (Kanan) Tersangka Muhammad Yusuf dan Eko Sugiatno saat gelar perkara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Penyelundup ganja Medan rupanya mengincar Kota Semarang sebagai sasaran ’empuk’ peredaran barang haram tersebut. Pasalnya, berjualan ganja di Semarang, penyelundup bisa untung hingga 10 kali lipat dari harga kulakan. Penyelundupan ganja kering tersebut berhasil dibongkar oleh aparat Satuan Reserse Kriminal Narkoba Polrestabes Semarang.

Sebanyak 7 kilogram ganja berhasil disita. Selain itu, dua orang pengedar, masing-masing Muhammad Yusuf, warga Jalan Sendangmulyo RT 5 RW 2 Kelurahan Sendangmulyo, Tembalang, Semarang dan Eko Sugiatno, 38, warga Wonomulyo Mukti Semarang, berhasil diringkus.

”Ganja tersebut berasal dari Medan. Tersangka mendapat untung 10 kali lipat dari harga pembelian. Barang bukti ganja yang berhasil kami sita seberat 7 kilogram dari dua tersangka,” ungkap Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono kepada Radar Semarang, Rabu (5/11).

Penangkapan tersebut dilakukan pada Selasa (28/10) lalu. Tim khusus yang diterjunkan oleh Polrestabes Semarang berhasil menguntit tersangka Muhammad Yusuf saat melakukan transaksi di seberang jalan dekat kampus STIMART-AMNI (Sekolah Tinggi Ilmu Maritim / Akademi Maritim Nasional Indonesia di Jalan Soekarno-Hatta.

”Yusuf ditangkap tangan dengan barang bukti ganja 6 bungkus paket kecil. Paket kecil itu dikemas menggunakan bungkus korek api kayu. Satu paket ganja kecil itu seharga Rp 50 ribu. Di Medan sana, harganya Rp 5 ribu,” kata Djihartono didampingi Kasat Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Juli Agung Pramono.

Petugas berhasil mengorek dari keterangan tersangka Yusuf mengenai dari mana asal ganja 6 paket tersebut. Dari pengembangan keterangan itulah, kemudian petugas berhasil mencokok tersangka Eko Sugiatno. ”Penggeledahan di rumah Eko, petugas berhasil mengamankan barang bukti ganja seberat 4,5 kilogram di kamar tersangka,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, petugas kembali mendapatkan informasi bahwa di rumah Yusuf juga masih terdapat bungkusan ganja. Setelah dilakukan penggeledahan di rumah Yusuf, tim kepolisian berhasil menyita 2 kilogram ganja. ”Total semuanya 7 kilogram ganja,” ujarnya.

Diperoleh keterangan, sebelumnya tersangka Eko diketahui telah mengirimkan ganja seberat 2 kilogram ke Jogja menggunakan travel. ”Kami masih menyelidiki dengan berkoordinasi dengan kepolisian Jogja. Kalau peredarannya menggunakan jalur darat,” katanya.

Tersangka Eko sendiri diketahui sebelumnya telah lama tinggal di Sumatera Barat, sehingga ia memahami seluk-beluk tentang barang haram tersebut. Baru belakangan, Eko tinggal di kompleks Perumahan BPD III Tlogomulyo, Pedurungan, Semarang.

Kasat Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Juli Agung Pramono menambahkan, terkait ganja Medan, memang sangat mencolok perbedaan harganya.

”Di kalangan pemakai dan pengedar, ganja asal Aceh Indonesia dikenal sebagai ganja yang kualitasnya sangat baik. Bahkan terkenal di seluruh dunia. Makanya setelah barang itu keluar, harganya jadi mahal. Padahal di sana murah. Satu paket kecil bungkus korek itu hanya Rp 5 ribu. Di sini dijual Rp 50 ribu,” beber Agung.

Dikatakan Agung, penyelundupan ganja dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa dilakukan dengan disamarkan melalui pengiriman barang asesoris mobil.

Tersangka Muhammad Yusuf mengaku, baru sebulan mengedarkan ganja, setelah mengenal tersangka Eko. Ia berkenalan dengan Eko saat bertemu di sebuah warung angkringan di kawasan Simpang Lima. ”Saya ditawari untuk menjualkan ganja,” katanya.

Dikatakannya, per kilonya, ganja kering itu dibeli seharga Rp 4 juta. Kemudian ia merajang ganja tersebut untuk dijual eceran dengan kemasan paket kecil. Caranya, dengan dimasukkan ke dalam kotak korek api kayu. ”Setiap 1 kilogram, saya mendapat keuntungan Rp 1 juta,” ujarnya.

Para pembelinya biasa memesan melalui SMS, kemudian tersangka mengirimkan di suatu tempat. ”Terakhir saya mengirim di pinggir Jalan Sambiroto. Saya nggak kenal siapa,” katanya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 111 ayat (2) dan Pasal 127 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2000 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara dan atau denda uang Rp 8 miliar. (mg5/aro/ce1)