Terancam Dikeluarkan dari Undip

136

PEMBANTU Rektor III Undip Warsito SU menyayangkan terjadinya kasus penganiayaan yang dilakukan dua mahasiswa Fakultas Hukum Undip terhadap wartawan Jawa Pos Radar Semarang Ricky Fitriyanto. Apabila persoalannya sudah menyangkut pidana sampai pemukulan dan pengerusakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

”Kami sangat menyayangkan, dan baru mendengar kabar ini. Ini memang memalukan sampai ada penganiayaan pasti sudah menuju ke pidana. Proses hukum biar kepolisian yang menangani meski kami berharap ada jalan damai,” kata Warsito saat dihubungi JPNN kemarin.

Warsito berharap, apabila kasus ini masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan jalan damai antara pihak Undip dengan Radar Semarang.

Saat ditanya apakah mahasiswa yang bersangkutan bisa dijatuhi sanksi dikeluarkan dari Undip? Warsito menegaskan, pihaknya akan melihat bagaimana peraturan yang berlaku di Undip dan perlu melihat kembali hak dan kewajiban. Karena kasus ini baru kali ini terjadi, sehingga perlu melihat sanksi apa yang patut dijatuhkan kepada dua mahasiswa tersebut.

”Saat ini kita belum bisa memutuskan apakah mahasiswa tersebut akan dikeluarkan atau tidak, kita tidak bisa bertindak demikian. Karena ada peraturan yang perlu kita lihat lagi, apakah masih bisa diselesaikan secara damai. Kalau memang mahasiswa tersebut sudah terkenal banyak kasus, ya bisa saja dikeluarkan, tapi kita belum tahu bagaimana latar belakang mahasiswa tersebut,” jelasnya.

Kapala Humas Undip Rini Handayaningsih kepada JPNN enggan berkomentar banyak. Pihaknya menyerahkan semuanya ke atasannya. ”Tapi saya dengar dari pihak Fakultas Hukum Undip, info dari Pembantu Dekan I FH keduanya bukan mahasiswanya,” ujarnya.

Pakar Hukum Pidana Undip Prof Dr Nyoman Serikat Putra Jaya, menilai kasus yang menimpa dua mahasiswanya itu telah masuk pasal penganiayaan dan pengerusakan. Meski begitu, pihaknya menekankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut lantaran kejadian terjadi di luar kampus. ”Tetapi begini, di tempat kami juga ada Perak (peraturan akademik) yang akan memberikan sanksi kepada mahasiswa yang diduga melakukan perbuatan melanggar hukum. Nanti akan dipertimbangkan bagi lembaga untuk mengambil tindakan apa,” ungkapnya saat dihubungi Radar Semarang.

Disinggung adanya dugaan kedua pelaku dalam kondisi mabuk dan melawan arus jalan saat melakukan aksi tersebut, Nyoman mengaku belum bisa memberi pertimbangan apakah memperberat atau tidak. Pasalnya, untuk menentukan hal itu harus melalui kualifikasi lebih detail dahulu. ”Saat ini belum bisa diketahui karena memang kejadiannya di luar jangkauan kami,” imbuhnya.

Nyoman menambahkan, jika benar kedua pelaku adalah mahasiswa Fakultas Hukum seharusnya menguasai norma-norma hukum dan juga kesusilaan. Menurutnya, dalam mengajar pihaknya tidak hanya menekankan aspek normatif hukum pidana, tetapi juga menanamkan aspek kesopanan, kesantunan dan sudut pandang agama. ”Dari kejadian ini diharapkan mahasiswa tidak hanya sekadar mengejar ilmu, tetapi juga mendalami dunia nilai dalam masyarakat untuk kebaikan mereka,” pungkasnya. (fai/jpnn/aro/ce1)