SEMARANG-Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng sedang menyiapkan skenario menyambut kenaikan harga Bahan bakar Minyak (BBM). Yakni dengan menambah 10 persen dari kebutuhan BBM baik premium atau solar, serta elpiji 3 kg. Untuk 2014, BBM di Jateng disiapkan mencapai 5 juta KL per tahun, meski tidak semuanya digunakan.

Kepala Dinas ESDM Jateng, Teguh Dwi Paryono mengatakan, dalam waktu dekat akan mengumpulkan 35 kepala daerah untuk membahas masalah kenaikan harga BBM. Tujuanya untuk membuat skenario dan memperkirakan lonjokan kebutuhan BBM di Jateng untuk tahun 2015. “Prediksinya dari kebutuhan tahun ini sebesar 5 juta KL, maka akan ditambah 10 persen,” katanya.

Ia memastikan, prediksi itu masih bisa berubah. Sebab pihaknya belum mengetahui pasti bagaimana manajemen di Kementrian ESDM untuk masalah kenaikan harga BBM. Jumlah 5 juta KL ini terdiri atas 3 juta KL jenis premium serta 2 juta KL jenis solar. “Angka itu masih tetap aman dan bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Asalkan tidak ada penyimpangan di lapangan,” imbuhnya.

Teguh memprediksi, jika kenaikan harga BBM berkisar Rp 2000 sampai Rp 3000, maka asumsi penggunaan akan berubah. Masyarakat akan memilih BBM non subsidi dengan kualitas bagus, dibandingkan menggunakan BBM subsidi dengan harga relatif sama. “Jika BBM subsidi naik jadi Rp 10 ribu, maka orang akan memilih BBM yang berkualitas bagus. Karena BBM akan menentukan masa ketahanan mesin,” tambahnya.

Di Jateng, BBM jenis solar mendapatkan perhatian khusus, karena rawan diselewengkan. Ia sendiri pernah mendapatkan laporan adanya penyelwengan solar di Stasiun Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di daerah Tambaklorok dan Ddemak. Tapi setelah disidak di lapangan, ternyata laporan penyelewengan itu tidak benar. “Solar memang rawan penyelewengan, jadi pengawasan harus diperketat,” tambahnya.

Menyikapi adanya kenaikan harga BBM, sejumlah warga mengaku tidak sepakat. Kenaikan itu secara tidak langsung akan mempengaruhi kenaikan harga berbagai bahan baku kebutuhan hidup. Apalagi sekarang ini, kebutuhan sudah tinggi. “Kalau BBM naik, kasihan rakyat kecil. Mereka pasti akan tercekik,” kata Harjanto, 39, warga Ngaliyan. (fth/ida)