WADUL DEWAN : Para guru dan pengurus Yayasan Solihiyyah Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen kemarin mengadu ke wakil rakyat di DPRD Demak. Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Fahrudin Bisri Slamet. (Wahib pribadi/radar semarang)
WADUL DEWAN : Para guru dan pengurus Yayasan Solihiyyah Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen kemarin mengadu ke wakil rakyat di DPRD Demak. Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Fahrudin Bisri Slamet. (Wahib pribadi/radar semarang)
WADUL DEWAN : Para guru dan pengurus Yayasan Solihiyyah Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen kemarin mengadu ke wakil rakyat di DPRD Demak. Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Fahrudin Bisri Slamet. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Gedung sekolah di bawah Yayasan Solihiyyah, Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen masih digempur pihak Takmir Masjid Baitut Taqwa dan warga setempat. Gedung bertingkat tiga dengan 9 ruangan yang dirobohkan dilaporkan sudah mencapai 50 persen. Akibatnya, para siswa pun terlantar. Mereka yang ruangannya dihancurkan terpaksa belajar di ruang perpustakaan dan laboratorium sekolah.

Selain itu, satu ruang kelas digunakan untuk menampung siswa dari dua kelas. Demikian disampaikan Sekretaris Yayasan Solihiyyah, Husaeni, saat mengadu ke DPRD Demak, kemarin. Husaeni didampingi beberapa guru dan para siswa, utamanya dari perwakilan organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Mereka ditemui Wakil Ketua DPRD Demak Fahrudin Bisri Slamet yang juga berasal dari wilayah dapil Mranggen-Karangawen.

Menurut Husaeni, sejak ada upaya paksa pembongkaran gedung sekolah Minggu (2/11) lalu, pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Polda Jateng dan Polres Demak. Sebab, apapun itu dinilai sebagai tindak pidana. Apalagi, telah merugikan para siswa yang sedang belajar. “Meski demikian, saya tetap berupaya bagaimana ini semua diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau gedung sudah dihancurkan seperti itu, setidaknya ada ganti rugi atau mencarikan tempat lain sehingga kelangsungan belajar para siswa ini tidak terganggu,” ujar dia.

Menurutnya, masalah tersebut diharapkan bisa cepat selesai dan tidak meluas kemana-mana. “Saya menyadari (lahan yang ditempati sekolah) itu tanah masjid. Tapi, yang membuat kami tidak bisa menerima itu karena perusakan gedung itu. Kita sudah susah payah membangun gedung sekolah secara bertahap senilai Rp 1 miliar. Namun, dirusak seperti ini,” ungkap Husaein.

Yayasan Solihiyyah sendiri membawahi sekolah Madin, MTs, MA dan SMK dengan jumlah siswa 980 orang. Yang dibongkar sekarang berada di gedung untuk SMK dan Madin. Dia menuturkan, sekolah tersebut didirikan sejak 2004 dan telah mendapatkan restu Kiai Mu’tasim ketika itu. Saat itu, di belakang masjid ada lahan kosong sehingga gedung sekolah dibangun di areal tanah tersebut. “Waktu itu, juga sudah dirapatkan pihak takmir. Hanya saja, sayangnya tidak tercatat dalam perjanjian hitam di atas putih. Namun, masih banyak saksi-saksi yang melihat dan mendengar. Sebetulnya, kita sama-sama cucu Mbah Soleh. Meski kita laporkan ke polisi, tapi kita memang tetap berharap ada penyelesaian secara damai,” katanya.

Ketua OSIS, Mar’atus Sholihiyyah mengatakan, pihaknya telah mengkoordinasikan seluruh siswa agar tetap berangkat sekolah dan belajar meski dalam keterbatasan ruang gedung. “Kita menjadi korban. Belajar terganggu,” jelas dia yang turut ke gedung dewan, kemarin. Senada diutarakan siswa MA Solihiyyah, Sofi Fajrina Hapsoh. Menurutnya, para siswa kini sedang bingung. Sebab, gedung yang dipakai untuk proses belajar mengajar justru dirobohkan. “Banyak yang bertanya, mau belajar dimana. Kita pun bersama para guru memutuskan untuk belajar seadanya di ruang perpustakaan dan laboratorium,” kata Sofi.

Menanggapi pengaduan itu, Wakil Ketua DPRD Demak, Fahrudin Bisri Slamet mengatakan, pihaknya akan mengundang para pihak terkait, termasuk dari pihak Yayasan Solihiyyah dan Takmir Masjid Baitut Taqwa Desa Kalitengah untuk mencari penyelesaian masalah yang terjadi. “Kami terima aspirasi ini. Besok (hari ini) kita fasilitasi untuk mempertemukan semua pihak agar semua berjalan kondusif. Kita berharap, tidak akan ada dendam di kemudian hari,”t erang Slamet, kemarin. Seperti diketahui, sehari sebelumnya kasus eksekusi gedung sekolah di Desa Kalitengah tersebut sempat ricuh lantaran para siswa mempertahankan tempat mereka untuk belajar. (hib/ric)