Berharap Segera Tempati Shelter

167
SIAP DITEMPATI: Pujasera PKL Batan Miroto sebanyak 77 unit sudah selesai dibangun, tinggal menunggu pengundian penempatan pertengahan November ini. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
 SIAP DITEMPATI: Pujasera PKL Batan Miroto sebanyak 77 unit sudah selesai dibangun, tinggal menunggu pengundian penempatan pertengahan November ini. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

SIAP DITEMPATI: Pujasera PKL Batan Miroto sebanyak 77 unit sudah selesai dibangun, tinggal menunggu pengundian penempatan pertengahan November ini. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

SEKAYU – Para pedagang di kawasan Batan Miroto Tengah mendesak Pemkot Semarang segera memfungsikan shelter yang sudah selesai dibangun. Para pedagang meminta awal bulan November ini, bisa kembali berjualan di tempat yang baru dibangun tersebut.

Pembangunan Pujasera PKL Batan Miroto sendiri, telah rampung bulan ini dan tinggal pembersihan lokasi. Ukuran lapak bervariasi yakni 2×3 meter dan 3×4 meter dengan jumlah lapak mencapai 77 unit, sesuai dengan data jumlah pedagang yang sebelumnya menempati tempat tersebut. Pada tempat tersebut juga dibangun dua taman kecil serta satu bangunan tempat sampah.

Salah satu pedagang, Nurjanah, 45, mengakui sudah tiga bulan lebih tidak memiliki pemasukan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, hanya mengandalkan pendapatan dari suami. Sehingga dengan selesainya pembangunan shelter bulan ini, dia berharap bisa segera ditempati.

”Kalau bisa, awal bulan ini bisa ditempati, supaya ada pemasukan kembali. Kalau terlalu lama menunggu, sama saja menambah beban ekonomi keluarga kami. Sementara suami saya hanya bekerja serabutan yang penghasilannya tidak tetap. Kalau tertunda-tunda terus, nantinya piutang saya juga bertambah terus,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Senin, (3/11) kemarin.

Keluhan sama disampaikan Mastinah, 41. Menurutnya, pembangunan shelter pujasera di kawasan Batan Miroto Tengah yang diperuntukkan pedagang kaki lima (PKL) telah selesai. Hanya saja pihaknya belum mengetahui kapan shelter tersebut akan ditempati. ”Saya tidak jualan sejak Agustus tahun ini. Kini, utang sudah menumpuk. Kalau bisa, ya bulan November bisa ditempati,” keluhnya.

Selain mendesak segera difungsikan, para pedagang juga berkeinginan penempatan shelter tanpa sistem pengundian. Pasalnya, para pedagang khawatir para pelanggan berkurang. Selain itu, ukuran panjang shelter yang tidak sama dengan sebelumnya, menyebabkan perkakas pedagang tidak bisa masuk semua.

”Tidak usah memakai sitem pengundian. Kalau saya dapat tempat yang ukurannya lebih kecil, malah semakin susah. Padahal dulunya kami di tempat yang cukup,” harap Mastinah.

Sementara Kepala Dinas Pasar, Trijoto Sardjoko menyatakan pembangunan shelter sudah selesai 100 persen pada Oktober kemarin. Rencananya pertengahan November ini, bisa ditempati. Hanya saja penempatan nantinya menggunakan sistem pengundian. ”Pada minggu ini, kami akan mengumpulkan pedagang. Sebelumnya, kami akan melakukan sosialisasi kepada para pedagang, terkait sistem penempatan dengan cara pengundian. Kemarin sudah ada serah terima,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)