KENDAL—Berhentinya aktivitas melaut oleh para nelayan di Kendal akibat gelombang tinggi, mengakibatkan sejumlah usaha di sekitar pesisir sepi pendapatan. Pedagang kelontong, warung makan, lapak-lapak di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga sepi aktivitas jual-beli.

Dari pantauan TPI Bandengan dan Karangsari Kecamatan Kendal, nyaris tidak ada aktivitas warga. TPI yang biasanya ramai oleh pembeli dan tengkulak juga kosong. Di jalan masuk dua kelurahan ini pun terlihat sejumlah usaha seperti warung, toko, dan bengkel khusus perahu sepi dari pengunjung. Maunah, 39, pemilik warung kelontong di Kelurahan Bandengan menuturkan bahwa sepinya pendapatan nelayan membuat pelanggan warungnya satu bulan terakhir sepi pembeli.

“Nelayan juga mengurangi kebutuhan hidupnya. Biasanya paling banyak belanja rokok, beras minyak goreng dan sebagainya. Tapi karena sepi ya berkurang, walau ada yang beli, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari biasanya,” katanya, Minggu (2/11).

Tak hanya para pedagang kelontong, menurutnya para tengkulak ikan laut yang biasa mangkal di TPI juga tidak ada. “Biasanya para tengkulak menunggu hasil tangkapan di TPI, mereka juga kadang beli kebutuhan. Tapi karena tidak ada nelayan yang melaut, jadi sepi warung-warung,” tuturnya.

Jika biasanya omset penjualannya mencapai Rp 750 ribu – Rp 1 juta, sebulan terakhir selalu di bawah Rp 500 ribu. “Jadi keuntungan juga sedikit karena omset menurun,” paparnya. Ia berharap, kondisi laut segera normal. Sebab, akan membantu perekonomian nelayan, juga akan berdampak positif bagi usaha-usaha di wilayah pesisir. Terutama para pedagang di sekitar pesisir pantai Bandengan dan Karangsari. “Kalau nelayan sepi, yang lain juga ikut sepi. Karena mata pencaharian orang sini sebagian besar adalah dari melaut,” tandasnya.

Hal senada dikatakan seorang pengusaha bengkel khusus perahu di Kelurahan Bandengan, Abdul Rosyid, 30. Ia mengaku gelombang laut yang tinggi mengakibatkan jarang perahu nelayan yang melakukan perbaikan di bengkelnya. “Biasanya kalau mau berangkat melaut pasti ada yang di servis. Tapi karena tidak melaut, bengkel juga jadi sepi. Tidak hanya bengkel, tapi BBM solar di SPBN Bandengan yang biasanya mengantre, beberapa bulan ini juga sepi,” katanya.

Dikatakannya, dalam sehari, hanya ada satu sampai tiga nelayan yang meminta bantuan memperbaiki bagian mesin perahu, itu pun hanya bagian kecil. Padahal, dalam kondisi normal, puluhan perahu dipastikan masuk ke bengkelnya untuk diperbaiki. “Yang berani melaut itu hanya nelayan dengan kapal besar saja. Perahu kecil semuanya bersandar dan tidak ada yang melaut. Jadi bengkel saya juga ikut sepi order,” katanya. (bud/ric)