Ganjar Janji Berdayakan Potensi Kopi

212
NGOPI BARENG : Gubernur Jateng Ganjar Pranowi dalam acara Ngopi Bareng Mas Ganjar, Ngobrol Masa depan Kopi Jateng di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, kemarin lusa (31/10). (MITAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
NGOPI BARENG : Gubernur Jateng Ganjar Pranowi dalam acara Ngopi Bareng Mas Ganjar, Ngobrol Masa depan Kopi Jateng di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, kemarin lusa (31/10). (MITAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
NGOPI BARENG : Gubernur Jateng Ganjar Pranowi dalam acara Ngopi Bareng Mas Ganjar, Ngobrol Masa depan Kopi Jateng di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, kemarin lusa (31/10). (MITAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Potensi hasil kebun kopi di Jawa Tengah ternyata sangat besar. Tapi sayang, sampai sekarang masih belum digarap maksimal. Salah satu kendala yang dihadapi petani kopi, adalah masalah pemasaran.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengakui Jateng cukup berpotensi untuk mengembangkan hasil perkebunan kopi. Di daerah pegunungan terutama, perkebunan kopi semakin banyak dan memiliki kualitas bagus. Seperti di Gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, Muria, dan Merapi.

“Khusus untuk kopi gunung kelir ini, memiliki cita rasa yang enak dan berkualias. Bahkan sudah mendapat juara pertama Adi Karya Pangan Nasional,” katanya dalam acara “Ngopi Bareng Mas Ganjar, Ngobrol Masa depan Kopi Jateng” di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisaa Jateng, kemarin (31/10).

Ia menambahkan, kopi di Jateng sebenarnya sudah ada sejak 100 tahun lebih dengan kualitas bagus. Tapi sayang, tidak banyak yang mengenal terkait dengan kualitas dan cita rasa kopi Jateng. “Kopi itu jika racikannya pas, rasanya enak. Sebenarnya prospek ini bisa bersaing dan harus dimaksimalkan,” imbuhnya.

Untuk kopi gunung kelir, Kabupaten Semarang misalnya, Bupati Semarang sudah mengekspor 18 ton kopi ke Korea. Setiap kirim ke luar negeri, biasanya dua kontainer dengan biaya sekitar Rp 500 juta. Ganjar mengaku, masalah kualitas, kuantitas dan perawatan kopi sudah tidak menjadi masalah. Persoalan utama adalah untuk soal pemasaran dan ekspor kopi. Di Jateng setidaknya Jateng berpotensi menghasilkan kopi 20-25 ribu ton.

“Kami ingin mencari solusi bagaimana cara memasarkan kopi yang baik. Pemprov akan terus memfasilitasi agar Jateng bisa benar-benar menghasilkan kopi berkualitas,” tambahnya.

Petani Kopi Gunung Kelir, Kabupaten Semarang, Ahmad Rofi berharap, pemerintah bisa memperhatikan keberadaan kopi Gunung Kelir. Ia mengatakan, potensi kopi sangat besar dan memiliki citarasa yang enak. “Kualitas, kuantitas sudah bagus. Kami berharap pemerinah membantu pemasaran dan ekspor,” katanya.

Ia mengaku petani kopi Gunung Kelir cukup banyak, dengan kualitas kopi yang enak. Secara kualitas dan kuantitas, petani kopi Gunung Kelir sudah tidak diragukan. Bahkan, kopi Gunung Kelir pernah mendapat juara nasional. “Paling masalah utama di pemasaran,” tambahnya. (fth/ida)