Eksekusi Gedung Sekolah, Siswa Histeris

125
BERTAHAN : Siswa berkumpul di depan gedung sekolah mereka sebelum eksekusi dilakukan. Guru dan siswa mempertahankan gedung sekolah dari eksekusi yang dilakukan takmir masjid dan warga di Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen. (Wahib pribadi/radar semarang)
BERTAHAN : Siswa berkumpul di depan gedung sekolah mereka sebelum eksekusi dilakukan. Guru dan siswa mempertahankan gedung sekolah dari eksekusi yang dilakukan takmir masjid dan warga di Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen. (Wahib pribadi/radar semarang)
BERTAHAN : Siswa berkumpul di depan gedung sekolah mereka sebelum eksekusi dilakukan. Guru dan siswa mempertahankan gedung sekolah dari eksekusi yang dilakukan takmir masjid dan warga di Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK – Suasana tegang kemarin terjadi di Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen, tepatnya di gedung sekolah Yayasan Solihiyyah. Ini setelah pihak Takmir Masjid Baitut Taqwa dan warga setempat ramai-ramai melakukan eksekusi atau pembongkaran gedung sekolah tersebut. Dalam eksekusi ini, guru maupun siswa sempat melakukan perlawanan agar pembongkaran gedung tidak dilakukan.

Mereka pun menghadang di depan pintu gedung. Mereka juga berorasi beberapa saat untuk menolak eksekusi yang dilakukan secara paksa oleh takmir masjid tersebut. Gedung sekolah bertingkat tiga yang memiliki 9 lokal ini sebelumnya digunakan untuk tempat proses belajar mengajar 980 siswa. Yakni, terdiri dari siswa Madrasah Diniyyah (Madin), MTs, MA dan SMK.

Saat mempertahankan gedung sekolah ini, seorang guru sempat terpeleset. Para siswa pun menangis histeris dan ada yang pingsan. Mereka tetap tidak menerima gedung dirobohkan. Sofyani, seorang guru mengungkapkan, guru maupun siswa hanya mencoba mempertahankan gedung mereka tempat belajar dan mengajar. “Kalau ada sengketa antara Yayasan dengan Takmir Masjid mestinya diselesaikan lewat pengadilan dan bukan dengan cara seperti ini. Jangan sampai siswa yang menjadi korban,” ujarnya.

Para guru dan siswa itu berorasi sekitar setengah jam. Setelah itu, membubarkan diri. Di sisi yang lain, para pekerja dan warga melanjutkan pembongkaran gedung. Juru bicara pihak Takmir Masjid Baitut Taqwa, Alharowi mengungkapkan, pembongkaran gedung sekolah di bagian barat dan belakang masjid dilakukan agar lahannya bisa dibangun untuk kepentingan masjid. “Sebelumnya sudah ada pertemuan antara pihak takmir dan yayasan. Namun, pihak yayasan bersikukuh mempertahankan. Mediasi di tingkat muspika pun buntu,” jelasnya.

Dia menambahkan, pihak takmir sebelumnya juga sudah melayangkan surat supaya, Sabtu (1/11) lalu pihak yayasan mengosongkan dan membongkar gedung mereka sendiri. Hanya saja, surat tersebut tidak dihiraukan dan terpaksa dilakukan pembongkaran. Selain itu, pihak takmir meminta yayasan agar mengembalikan sertifikat tanah milik bondo masjid atas nama Nafiah. Bila tidak dikembalikan, akan dilakukan upaya hukum.

Terpisah, Kepala Desa Kalitengah, Saefudin menuturkan, pihaknya berharap persoalan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Menurutnya, jauh hari sebelumnya tanpa melihat ada konflik antara yayasan dan takmir masjid, para tokoh desa sudah diundang semua untuk membahas masalah yang terjadi. Setidaknya ada tiga opsi yang diusulkan pihak desa. Yaitu, membangun masjid dengan membongkar gedung, kemudian membangun masjid tanpa membongkar gedung sekolah dan terakhir membangun masjid berdampingan dengan gedung sekolah secara bersyarat. Artinya, kedua belah pihak yayasan dan takmir masjid harus mau berembuk lebih dulu. “Yang dipilih opsi terakhir. Namun, pada akhirnya belum ada titik temu dan kesepakatan,” katanya.

Bahkan, pihak Kecamatan Mranggen sudah mencoba memediasi dengan mempertemukan kedua pihak. Tapi, dalam perkembangannya tetap terjadi pembongkaran. “Kedua pihak masih saudara saya semua. Kita harus bisa bersikap netral. Saya berharap, tidak ada gerakan seperti ini lagi. Selesaikan secara kekeluargaan itu lebih baik,” ujar Kades Saefudin. (hib/ric)