INOVATIF: Bayu Satria Mahardika (kiri) dan Rizki Fajar Kurniawan bersama Kepala SMAN 3 Semarang Bambang Nianto Mulyo menunjukkan medali emas OPSI 2014 yang diraihnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Bayu Satria Mahardika (kiri) dan Rizki Fajar Kurniawan bersama Kepala SMAN 3 Semarang Bambang Nianto Mulyo menunjukkan medali emas OPSI 2014 yang diraihnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Bayu Satria Mahardika (kiri) dan Rizki Fajar Kurniawan bersama Kepala SMAN 3 Semarang Bambang Nianto Mulyo menunjukkan medali emas OPSI 2014 yang diraihnya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

AHMAD FAISHOL
DUNIA penelitian bagi Rizki Fajar Kurniawan dan Bayu Satria Mahardika adalah sesuatu yang menyenangkan. Selain menambah pengalaman berharga, juga bermanfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan pada masa mendatang. Tidak heran, jika penelitian yang dikerjakan siswa kelas XII IPA ini mendapat apresiasi medali emas dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang digelar di Jogjakarta pada 19-24 Oktober 2014 lalu.

”Ini adalah penelitian ketujuh yang telah kami lakukan. Di antara yang berhasil mendapat penghargaan adalah pembuatan pupuk organik cair dan batu baterai dari kulit pisang,” ungkap dua siswa yang mengaku selalu bersama sejak duduk di bangku SMP Nasima Semarang ini.

Kepada Radar Semarang, Rizki –sapaan akrab Rizki Fajar Kurniawan- menceritakan bagaimana memulai sebuah penelitian tersebut. Menurutnya, ide itu muncul begitu saja setelah mengamati banyaknya sampah daun kering yang dibuang begitu saja. Dari situ timbul ide untuk membuat tinta dari bahan dasar sampah tersebut. ”Kalau tidak salah, ide itu muncul sekitar Februari 2014 lalu,” ujar siswa yang tinggal di Jalan Kelud Raya Semarang ini.

Putra pasangan M. Hasanudin dan Endang Susilowati ini menjelaskan proses penelitiannya, kali pertama daun kering yang berasal dari daun apa saja dibakar hingga menghasilkan karbon. Berbeda dengan pembakaran biasa, pembakaran dilakukan menggunakan panci rumahan sehingga menghasilkan pembakaran rendah oksigen.

”Setelah itu baru dicampur dengan aquades, gom arab, dan alkohol,” beber siswa yang pernah menjadi finalis ISPO tingkat SMP ini.

Bayu Satria Mahardika menambahkan, sebenarnya dalam proses percampuran tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih hanya 10 menit. Namun dalam menentukan campuran, dibutukan percobaan trial and error selama kurang lebih selama 8 bulan. ”Setelah campurannya pas, maka jadilah penelitian ini,” ujarnya.

Menurut Bayu –sapaan akrabnya– kebutuhan akan tinta saat ini semakin meningkat. Selain untuk keperluan percetakan, penggunaan tinta juga dibutuhkan dalam segala hal. Misalnya, dalam proses belajar mengajar yang mulai beralih dari kapur tulis menjadi spidol.

”Penggunaan tinta dari daun kering juga dapat mengurangi sampah yang semakin melimpah. Di samping itu, pembuatannya relatif mudah, cepat dan murah,” katanya.

Bayu mengakui, meski hasilnya tidak kalah dari tinta biasa, namun tinta yang mereka ciptakan saat ini hanya bisa digunakan untuk mencetak tulisan dalam kertas HVS. Hal itu juga yang menjadi catatan dewan juri dalam ajang OPSI beberapa waktu lalu. Namun ia mengaku setelah melalui proses pengembangan, kekurangan tersebut dapat segera teratasi.

”Menurut informasi yang kami terima dari Pak Agus Priyatno (guru pembimbing), aspek originalitas ide yang menjadi penilaian utama,” imbuh anak tunggal pasangan Suwarno dan Yanti ini.

Saat ini, keduanya mengaku tengah melakukan persiapan untuk mengikuti seleksi tim yang akan dikirim Kementerian Pendidikan RI dalam ajang International Science and Engineering Fair (ISEF) yang akan digelar di Amerika. Rizki dan Bayu berharap bisa lolos dalam seleksi tersebut dan menggondol medali emas untuk almamaternya. ”Setelah menang, saya berharap tinta dari sampah daun kering ini bisa diproduksi secara masal,” harapnya. (*/aro/ce1)