Wahib pribadi/radar semarang
Wahib pribadi/radar semarang
Wahib pribadi/radar semarang

Pemilik kios Pointplus yang terbakar, Azam Lutfianto, merasa terpukul dengan kejadian yang menimpanya tersebut. Ia tidak membayangkan kiosnya akan terbakar. Sebab, tidak ada firasat apa-apa terkait musibah yang menimpa tempat kerjanya yang berukuran 4 x 3 meter persegi itu.

WAHIB PRIBADI, Demak

Menurutnya, kios yang ditempati baru sekitar dua tahun terakhir ini menjadi mata pencahariannya sehari-hari. Kiosnya yang terletak di Blok E 1 Nomor 1 berdekatan dengan kios milik kakaknya, Susi Alifah (anggota DPRD Demak) dan saudaranya yang lain. Yang menyedihkan, guru SMK Muhammadiyah Pontren Darussalam ini sudah kali kedua kiosnya mengalami kebakaran. Yang pertama saat peristiwa kebakaran pada akhir 2006 silam. Ketika itu, meski belum jualan seperti sekarang ini, namun kios yang diberikan ibunya pada saat itu ikut terbakar bersama kios pedagang lainnya.

Sedangkan, dalam kejadian kebakaran kedua Kamis (30/10) malam, ia pun mengalami kerugian tidak sedikit. Dirinya selaku korban kebakaran mengalami kerugian antara Rp 600 juta hingga Rp 700 juta. Ini karena semua alat percetakan termasuk kamera ludes di lalap api. Menurutnya, api melumatkan 6 buah mesin printer, 1 buah printer A3, 3 kamera DSLR, 5 kamera poket untuk disewakan, kamera servis, mesin scan, mesin foto kopi, 3 komputer kerja, 3 monitor dan 2 buah handphone (HP).

Alat alat itu untuk menunjang usahanya yang bergerak di bidang digital printing, melayani pembuatan MMT, fotocopy dan desain. Lainnya yang ikut terbakar adalah bahan-bahan cetak. Antara lain, stok kain kaos sablon hasil orderan pelanggan. Menurutnya, semua barang-barang miliknya yang ada di dalam kios tersebut masih nyicil atau kredit sehingga sangat memberatkan bebannya. Ia termasuk nasabah Bank Mandiri dan BRI. “Semua sudah saya asuransikan,” katanya.

Azam menambahkan, yang paling dirasakan atas musibah ini adalah banyaknya dokumen lain yang juga ikut hangus. “Berkas ijazah milik teman saya, Pak Suyitno guru SMPN 5 terbakar, termasuk ijazah anaknya. Selain itu, semua portofolio asli terkait jabatan beliau juga menjadi arang. Semula berkas-berkas setebal 15 cm itu saya scan dan tinggal sedikit lagi selesai. Barang-barang itu tidak ternilai harganya. Tak hanya itu, 3 foto mantenan milik orang juga terbakar,” kata Azam sedih.

Menurut dia, ketika kebakaran terjadi, selama 1 jam dirinya masih tegar menghadapinya. Namun, setelah anaknya datang dan menanyakan apa yang terjadi ia langsung lemas. “Anak saya bilang saya langsung lemas mengingat mereka,” katanya. Meski demikian, Azam kemarin sudah tabah dan semua musibah yang menimpanya diserahkan sepenuhnya pada Allah SWT. “Saat kejadian saya tidak tahu. Sebab, saya masih berada di Kalikondang. Yang jelas, pekerjaan yang saya jalankan sudah profesional sesuai aturan. Kios saya tutup pukul 17.00. Sebelum pulang, semua stop kontak kabel listrik saya cek dan dicopot. Kebiasaan ini sudah kita lakukan dan karyawan saya juga sudah melakukannya,” ujar alumnus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta ini.

Bahkan, kata Azam, sebelum menempati kiosnya itu, banyak lubang angin di atas samping kios di tutup dengan adukan pasir dan semen. Dengan di tutup seperti itu tidak menganggu kios yang lain. Bahkan, hikmahnya, saat kebakaran terjadi kemarin malam itu api tidak menjalar ke kios tetangga. Ayah Azam, Ahmad mengungkapkan, kios anaknya itu hanya sebagai tempat orderan. Untuk mencetak MMT dilakukan di Semarang. (*/ric)