Petambak Vaname Siap Hadapi MEA 2015

392
KUALITAS EKSPOR : Seorang pekerja di Tambak Sadewadadi, Desa Kartikajaya Kecamatan Patebon memberikan pakan udang vaname. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 KUALITAS EKSPOR : Seorang pekerja di Tambak Sadewadadi, Desa Kartikajaya Kecamatan Patebon memberikan pakan udang vaname. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KUALITAS EKSPOR : Seorang pekerja di Tambak Sadewadadi, Desa Kartikajaya Kecamatan Patebon memberikan pakan udang vaname. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Salah satu sektor pangan di daerah Kendal yang diprediksi paling siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 adalah sektor perikanan. Khususnya budidaya udang vaname.

Hal itu terbukti dengan tingginya kebutuhan pasar internasional akan udang putih tersebut. Tentu saja, permintaan tinggi berpengaruh langsung pada harga pasaran udang vaname juga ikut melambung tinggi. Dari latar itulah membuat petani tambak di Kendal mulai beralih ke budidaya udang vaname. Bahkan tahun lalu, hasil panen udang Vaname di Kendal nomor dua setelah Brebes.

Salah seorang petani tambak udang Vaname di Kartikajaya Kecamatan Patebon, Lilis Widayatma, 45 mengatakan jika hasil panen udang vaname lebih melimpah ketimbang budidaya ikan bandeng. “Selain itu harganya bagus karena permintaan dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sangat tinggi,” ujarnya, Kamis (30/10).

Udang vaname menurutnya juga lebih cepat pertumbuhannya, sehingga masa panen lebih cepat ketimbang jenis lainnya seperti udang windu maupun udang bago. Yakni, udang vaname siap dipanen pada umur 110-120 hari (3,6 bulan). Sementara budidaya ikan bandeng atau udang lainnya, paling cepat adalah 180-200 hari (6 bulan). Bahkan, ditengarai udang ini lebih tahan terhadap penyakit.

Dengan benih udang 800-850 ribu per hektare, jika berhasil, petani tambak bisa memanen lebih kurang 10-12 ton udang vaname. Hasil tersebut jika dikalikan harga pasaran udang vaname dengan ukuran 45 gram saat ini yang mencapai Rp 105 ribu per kilogram, maka petani sudah dapat mengantongi uang Rp 1,05 miliar per hektare dalam waktu yang singkat.

Sedangkan biaya perawatan, paling banyak adalah di pakan udang dan listrik untuk menghidupkan kincir. Pada setiap 0,5 hektare idealnya dibutuhkan enam kincir. “Harga benihnya Rp 34 per ekor atau Rp 27,2 juta per hektare,” paparnya.

Hasil panen udang vaname diakui tidak langsung ekspor keluar negeri. Melainkan ia jual kepada pemborong lokal untuk kemudian di ekspor ke luar negeri. “Ya memang kendalanya kami belum mengetahui persyaratan mengekspor udang ke luar negeri. Jika bisa di ekspor sendiri, mungkin harga per kilogramnya akan lebih tinggi,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo mengakui jika komoditas udang vaname sangat bagus. Sebab pesanan udang vaname dari luar negeri ke Indonesia sangat tinggi. “Bahkan boleh dibilang, para petani tambak udang vamame inilah yang lebih siap menghadapi pasar bebas 2015 nantiya,” katanya.

Sebab, hasil udang vaname rata-rata tidak diolah melainkan di ekspor ke luar negeri. Peluang itulah yang menjadi acuan, karena kebutuhan udang vaname cukup tinggi dari negara-negara Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat. Bahkan pasar internasional saat ini masih kekurangan sekitar 700-800 ton udang.

Permintaan tinggi akan kebutuhan pasar internasional udang vaname itu menyusul setelah negara penghasil udang vaname tertinggi, seperti Vietnam, Thailand dan Tiongkok produksinya merosot jauh. Yakni setelah diketahui banyaknya udang dari negara-negara tersebut terkena virus Early Mortality Syndrome (EMS) yang mengakibatkan turunnya kualitas udang di negara-negara tersebut.

“Sehingga pasar internasional menghentikan masuknya udang vaname dari Vietnam, Thailand dan Tiongkok untuk di ekspor karena berbahaya. Nah, Indonesia ini menjadi satu-satunya harapan dunia untuk memasok udang vaname di pasar internasional. Sebab perairan laut Indonesia masih bersih dan terbebas dari virus-virus berbahaya,” paparnya.

Di Kendal, lanjut Hudi, perkembangan budidaya udang vaname cukup pesat ketimbang kabupaten lain di kawasan pantai utara Jawa (pantura). Bahkan pengelolaannya tidak lagi secara tradisional, melainkan sudah modern. “Kesadaran petani tambak sudah tinggi, kini pengolalaannya tidak lagi bergantung pada alam atau faktor keberuntungan semata. Kini sudah mulai menggunakan teknologi kincir, pengecekan air, dan pertumbuhan udang sehingga kemungkinan gagal panen semakin kecil,” paparnya.

Ia mengatakan, hasil panen udang vaname di Kendal tahun lalu mencapai 2.250 ton dari 156 hektare tambak udang vaname di Kendal. “Dari jumlah tersebut, rata-rata hasilnya ada 15 ton per hektare,” ujarnya.

Kasi Pengembangan Produksi Perikanan DKP Kendal, Joko Suprayoga menambahkan sejauh ini ada enam Kecamatan yang mulai bertani udang vaname. Yakni, Kaliwungu, Brangsong, Kendal, Patebon, Cepiring dan Rowosari. “Semua daerah yang berada di tepi pantura membudidayakan udang vaname. Tapi sejauh ini ada dua daerah yang tinggi penghasilan udang vaname yakni Kaliwungu dan Kartikajaya-Patebon,” katanya.

Berbondong-bondongnya petani tambak beralih ke udang vaname dan potensi tambak di Kendal, menurutnya tidak hanya sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan. Melainkan akan meningkatkan taraf kualitas ekonomi masyarkat Kendal. “Jadi sudah bukan lagi ketahanan pangan, karena justru hasil udang vaname petani tambak sudah diekspor ke luar negeri,” imbuhnya. (bud/ric)