TAK PENUHI TARGET: Proses pembangunan GOR Tri Lomba Juang yang ditargetkan selesai pada akhir 2014, terancam gagal. Pasalnya, masa pengerjaan kurang dua bulan baru mencapai 45 persen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 TAK PENUHI TARGET: Proses pembangunan GOR Tri Lomba Juang yang ditargetkan selesai pada akhir 2014, terancam gagal. Pasalnya, masa pengerjaan kurang dua bulan baru mencapai 45 persen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TAK PENUHI TARGET: Proses pembangunan GOR Tri Lomba Juang yang ditargetkan selesai pada akhir 2014, terancam gagal. Pasalnya, masa pengerjaan kurang dua bulan baru mencapai 45 persen. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MUGASSARI – Pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang (Mugas) tahap II yang menyisakan waktu tinggal 2 bulan ini, terancam tak penuhi target. Pasalnya, progres pembangunan baru mencapai 45 persen, dengan alasan terkendala material pasir.
”Pasir Muntilan menjadi komponen utama pembangunan untuk bahan beton, namun saat ini mengalami krisis pasir,” tegas perwakilan PT Sinar Cerah Sempurna Astha Saka, Herna Kuswanto, kemarin (30/10).

Padahal pembangunan stadion seluas dua hektare di lahan 5 hektare lahan milik Pemkot Semarang itu, sudah dimulai sejak September 2013 lalu. ”Kami terpaksa menggunakan abu batu untuk menghindari keterlambatan pembangunan,” kata Herna.

Pihaknya khawatir bila pasir Muntilan diganti dengan pasir sungai akan berdampak pada kualitas bangunan. Hambatan lain dari krisis pasir juga terjadi pada proses pengecoran oleh kendaraan ready mix yang selama ini menyuplai adonan semen pasir dan batu pecah.

Menurut Herna, kondisi itu terjadi pada semua proses pembangunan gedung besar di Kota Semarang yang membutuhkan kerja sama suplai pengecoran beton. PT Sinar Cerah Sempurna Astha Saka, yang dikelola Herna sedang menargetkan sejumlah struktur bangunan sarana olahraga meliputi lapangan atletik, voli, bulutangkis, area senam dan fitness, jogging track, tribun atletik, area parkir hingga lapangan tenis fasilitas ruko. Pembangunan yang dibiayai anggaran belanja Kota Semarang senilai Rp 32 miliar itu ditargetkan selesai 29 Desember 2014.

Kendati begitu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Wachid Nurminyanto tak percaya sepenuhnya alasan krisis pasir Merapi yang dihadapi rekanan pembangunan sarana olahraga tersebut. ”Saya berharap pemkot tetap memantau, jangan mengandalkan konsultan dari luar,” kata Wachid.

Ia menilai pembanngunan dengan biaya Rp 32 miliar itu rawan diselewengkan sehingga diperlukan kontrol berbagai pihak. Upaya itu dinilai mampu menghindari penyalahgunaan biaya pembangunan yang nilainya besar. ”Karena pekerjaan dengan biaya besar harus ada kepastian dari fisik dan penganggarannya,” katanya.

Legislator Fraksi PAN itu berharap Pemkot Semarang tegas sesuai isi kontrak yang telah disepakati dalam pembangunan itu. ”Bila tak tepat waktu harus kenai sanksi tak peduli alasan krisis bahan baku,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan (DTKP) Kota Semarang Agus Riyanto berjanji akan terus melakukan pemantauan terhadap progres pembangunan pusat sarana olahraga Kota Atlas itu. ”Kami akan terus meminta pihak kontraktor melaporkan setiap perkembangan dan kami juga minta agar mereka melakukan percepatan tanpa mengurangi spek bangunan,” tandasnya. (zal/ida/ce1)