DITOLAK: Aziz Suryokusuma saat mendengarkan penetapan majelis hakim yang menolak sidang tipiring atas kasusnya di PN Semarang. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
 DITOLAK: Aziz Suryokusuma saat mendengarkan penetapan majelis hakim yang menolak sidang tipiring atas kasusnya di PN Semarang. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

DITOLAK: Aziz Suryokusuma saat mendengarkan penetapan majelis hakim yang menolak sidang tipiring atas kasusnya di PN Semarang. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

KRAPYAK – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menolak perkara tindak pidana ringan (tipiring) atas kasus kecelakaan sebuah mobil Toyota Fortuner bernopol H 168 BR yang dikendarai Aziz Suryokusuma, 30, hingga menabrak dua mobil Toyota Harier dan Grand Livina yang terparkir di Simpang Lima pertengahan September 2014 lalu.

”Menetapkan, tidak dapat melanjutkan proses perkara ini dan memerintahkan untuk mengembalikan berkas perkara kepada penyidik untuk ditindaklanjuti,” ucap Winarno, hakim ketua yang memeriksa perkara ini di PN Semarang, Selasa (28/10).

Hakim berpendapat, sidang tipiring hanya dapat diproses untuk jeratan pasal dengan ancaman hukuman pidana paling lama tiga bulan. Sementara, perkara yang diajukan penyidik dari Satlantas Polrestabes Semarang adalah pelanggaran pasal 310 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ”Dalam Undang-undang tersebut, ancaman pidananya enam bulan dan denda Rp 1 juta,” ungkapnya.

Meski memerintahkan untuk menindaklanjuti, majelis hakim menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan intervensi kepada penyidik dalam melakukan penyidikan. ”Perkara ini dapat berlanjut atau tidak, tergantung proses penyidikan. Jika ada dugaan pelanggaran, supaya diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” terangnya.

Terpisah, Dani Sriyanto selaku keluarga korban pemilik Mobil Toyota Harier mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Aziz Suryokusuma bukanlah pelanggaran lalu lintas. Akan tetapi sudah masuk kejahatan dan pelakunya harus dikenai hukuman.

”Kami hanya minta pelaku diajukan berdasarkan fakta kejadian. Seharusnya ia dijerat dengan pasal 312 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman pidana paling lama tiga tahun dan denda terbanyak Rp 75 juta,” ungkapnya.
Dibeberkan, dalam kejadian tersebut terdakwa diketahui dalam pengaruh minuman keras. Setelah menabrak, ia juga tidak menghentikan dan melaporkan kejadian tersebut kepada polisi terdekat. Justru ia memilih melarikan diri. Belum lagi, dampak yang diterima oleh para korban dengan rusaknya mobil mereka. ”Kalau masih dipaksakan dengan pasal 310, kami akan lapor kepada Propam,” tegasnya.

Sementara itu, penyidik dari Satlantas Polrestabes Semarang Handoko saat dimintai keterangan menyatakan bahwa proses persidangan tersebut hanyalah sebuah mediasi. ”Nanti pasal yang dikenakan juga bukan yang itu,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kasus ini berawal Sabtu (13/9) sekitar pukul 01.00 dini hari. Pelaku yang mengendarai Toyota Fortuner bernopol H 168 BR itu melaju kencang memutari Lapangan Pancasila kawasan Simpang Lima Semarang. Namun saat tiba di pertigaan Plaza Simpang Lima dan Mal Ciputra, mobil tersebut menabrak Toyota Harrier H 9197 IY yang diparkir hingga karambol mobil di sampingnya, Nissan Grand Livina bernopol H 8593 BH.

Mobil Fortuner yang sudah penyok bagian depannya itu ternyata tetap melaju dan menyerempet pengguna jalan dan satu motor. Warga pun mengejar mobil tersebut hingga akhirnya polisi datang dan menggiring mobil Fortuner ke Pos Patwal. Dua orang yang ada di dalam mobil yaitu Azis Suryo kusumo, 30, warga Semarang Selatan dan Hani Oktavia, 25, warga Jogjakarta. Pengemudi mobil yaitu Azis diketahui dalam kondisi pengaruh minuman keras. (fai/ida/ce1)