Berkirim e-mail alias surat elektronik kini telah menjadi hal yang lazim. Tapi, rupanya masih ada juga yang hobi berkirim pesan maupun kabar lewat selembar kartu pos. Bahkan, ada yang saling berkirim kartu pos ke rekan di seluruh penjuru dunia dengan tujuan random. Seperti apa asyiknya?

NURUL PRATIDINA
RATUSAN lembar kartu pos bergambar pemandangan sejumlah negara lengkap dengan tulisan tangan dari si pengirim ’dipamerkan’ oleh anggota Komunitas Postcrossing Indonesia (KPI) Region Semarang saat pertemuan beberapa waktu lalu. Mereka sangat antusias menceritakan kisah per kisah dari kartu pos tersebut.

”Saya paling suka ini. Karena di Indonesia susah nyari kartu pos yang seperti ini. Sudah jarang banget,” ujar Annisa sembari menunjukkan beberapa lembar kartu pos tiga dimensi yang didapatnya dari beberapa negara.

Lain lagi dengan Citrandy Pamungkas. Ia justru memfavoritkan lembar kartu pos yang kondisinya sudah lecek. Kisah di balik leceknya postcard tersebutlah yang membuat Citrandy memfavoritkannya. ”Gambarnya cewek,” ucapnya yang langsung disambut hhhmmmm oleh anggota KPI Region Semarang lainnya yang ikut berkumpul.

”Tapi, bukan karena itu (gambar cewek, Red) saya memfavoritkan kartu pos ini. Tapi, lebih karena kartu pos ini sampainya lama sekali. Ternyata nyasar dulu ke Kenya. Jadi, sebelum sampai ke tangan saya, kartu pos ini keliling dunia dulu. Seru kan,” katanya sambil tersenyum.

Ya, apa yang diungkapkan oleh Annisa dan Citrandy merupakan secuil pengalaman menarik di balik kartu pos yang dimiliki oleh anggota KPI Region Semarang. Bagi mereka, awalnya bisa jadi hanya sekadar mengoleksi, namun ternyata banyak kesenangan yang didapat dengan bergabung dalam komunitas ini.

Seperti yang diungkapkan NA Rochmawati. Perempuan yang akrab disapa Tiwuk ini sudah sejak lama mengoleksi benda-benda pos dan berkirim surat maupun kartu pos. Ia pun segera bergabung di KPI Region Semarang, begitu mendapat informasi keberadaan komunitas tersebut.

”Dulu saya punya sahabat pena, rajin tulis surat, tapi sudah lama berhenti. Nah, dengan gabung di postcrossing, saya jadi seperti bernostalgia, dan ini lebih seru, karena kita saling berkirim kartu pos dengan alamat tujuannya random,” ujar Tiwuk.
Kartu pos yang entah dikirim dari negara mana, menjadi ’kejutan’ yang menarik. Terlebih dengan tulisan tangan dari para pengirim tersebut yang temanya berbeda-beda. Ada yang sekadar memperkenalkan diri, menceritakan keseharian maupun menggambarkan apa yang ada di kartu pos tersebut.

”Saya senang kalau dapat yang isi pesannya panjang, karena lebih komunikatif. Pernah juga dapat yang pesannya berbahasa Rusia, sampai harus minta tolong sama teman untuk menerjemahkan dulu,” cerita alumnus Undip ini.

Namun demikian, mereka juga mengakui sebelumnya tak sedikit yang mencibir hobi tersebut. Sebagian mengatakan, di tengah gencarnya era internet, masih saja asyik berkirim kartu pos dalam bentuk fisik. Tapi bagi mereka, justru di situ serunya.
”Banyak yang bilang zaman sudah canggih, ngapain masih kirim-kiriman kartu pos. Tapi ya justru itu asyiknya. Tiba-tiba dapat kiriman paket, nebak-nebak dari negara mana, terus pesannya apa,” timpal Angelina Siyo.

Cewek kelahiran Medan ini sudah sejak 6 bulan lalu bergabung di komunitas Postcrossing. Tak jauh berbeda dengan rekan lainnya, awalnya ia hobi mengoleksi benda-benda pos. Dengan bergabung di komunitas ini, ia menemukan keasyikan serta berbagai manfaat lain.

”Sebetulnya dengan media ini, kita juga bisa mempromosikan Indonesia. Rata-rata yang saya kirimi postcard bergambar tempat-tempat wisata di Indonesia, responsnya pasti bagus. Bahkan ada yang minta dikirimi lagi,” ujarnya.

Sayangnya, ucap Siyo, di Indonesia sendiri belum banyak yang memproduksi kartu pos. Sehingga mereka kerap kali kesulitan saat akan mengirim. Hal ini juga yang menginspirasi beberapa anggota KPI Semarang untuk memproduksi sendiri.

”Susah sekali mencari kartu pos yang menggambarkan Semarang. Akhirnya saya bikin beberapa. Harapannya ke depan akan lebih banyak kartu pos yang melukiskan keindahan Indonesia. Jadi, kita lebih bisa mempromosikan Indonesia ke dunia,” kata Putri Kartika Oktavia, anggota KPI Region Semarang lainnya. (*/aro/ce1)