BERPANTUN RIA: Ribuan siswa dan siswi SMA N 9 Semarang menyambut Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda dengan menulis pantun pada selembar kertas, di halaman sekolah itu, Senin kemarin (27/10) pagi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
BERPANTUN RIA: Ribuan siswa dan siswi SMA N 9 Semarang menyambut Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda dengan menulis pantun pada selembar kertas, di halaman sekolah itu, Senin kemarin (27/10) pagi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
BERPANTUN RIA: Ribuan siswa dan siswi SMA N 9 Semarang menyambut Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda dengan menulis pantun pada selembar kertas, di halaman sekolah itu, Senin kemarin (27/10) pagi. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

PADANGSARI – Ribuan siswa dan siswi SMA N 9 Semarang melakukan aksi unik menyambut peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. Ribuan siswa dan siswi ini antusias dan kompak menulis pantun pada selembar kertas yang sudah diisi data diri masing-masing siswa, di halaman sekolah itu, Senin kemarin (27/10) pagi.

Terik matahari yang cukup menyengat, tidak menjadi halangan. Total ada sekitar 1.071 siswa dari kelas satu hingga kelas tiga yang diharuskan menuliskan 5 pantun setiap orang dengan tema berbeda.

Kepala Sekolah SMAN 9 Semarang, Wiharto mengatakan jika acara tersebut rutin digelar setiap tahun dengan tema berbeda. Pantun yang dibuat harus memilik makna dan manfaat untuk masyarakat dan sang penulis. ”Tahun ini, kami menekankan pada siswa untuk menulis pantun, sehingga mereka tahu perbedaan antara pantun, puisi, dan gurindam,” katanya kepada Radar Semarang.

Sebelumnya, pihaknya menargetkan para siswa bisa menulis 5.000 pantun yang berbeda untuk memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI). ”Namun pantun yang tercipta justru melebihi target, mencapai 5.355 pantun. Bahkan setelah diseleksi, pantun yang dihasilkan berbeda-beda,” ujarnya bangga.

Selain bangga, dirinya sangat senang karena anak didiknya bisa memecahkan rekor MURI. Rencananya, pantun-pantun yang sudah diciptakan tersebut akan disimpan dan dipamerkan di lingkungan sekolah. ”Kami akan simpan untuk adik kelas mereka agar bisa memahami pantun. Minimal, bisa menjadi referensi kepada adik kelasnya,” pungkasnya.

Annisa Nur Hapsari, salah satu siswi kelas XI mengaku senang bisa berpartisipasi dalam pemecahan rekor MURI yang dibuat bersama teman-temannya. ”Ini adalah hari yang bersejarah bagi lantaran bisa masuk rekor MURI,” tambahnya. (den/ida/ce1)