Kemah Bakti, Bangun Rasa Kebangsaan

112
CINTA TANAH AIR: Sekitar 40 kontingen dari jajaran Kodim di lingkungan Kodam IV/Diponegoro mengikuti Perkemahan Bhakti Saka Wira Kartika, tingkat Kwarda 11 Jawa Tengah tahun 2014 di Bumi Perkemahan Gunungpati Semarang, kemarin. (TNI)
CINTA TANAH AIR: Sekitar 40 kontingen dari jajaran Kodim di lingkungan Kodam IV/Diponegoro mengikuti Perkemahan Bhakti Saka Wira Kartika, tingkat Kwarda 11 Jawa Tengah tahun 2014 di Bumi Perkemahan Gunungpati Semarang, kemarin. (TNI)
CINTA TANAH AIR: Sekitar 40 kontingen dari jajaran Kodim di lingkungan Kodam IV/Diponegoro mengikuti Perkemahan Bhakti Saka Wira Kartika, tingkat Kwarda 11 Jawa Tengah tahun 2014 di Bumi Perkemahan Gunungpati Semarang, kemarin. (TNI)

GUNUNGPATI – Sebanyak 40 kontingen dari jajaran Kodim di lingkungan Kodam IV/Diponegoro mengikuti Perkemahan Bhakti Saka Wira Kartika, tingkat Kwarda 11 Jawa Tengah tahun 2014 di Bumi Perkemahan Gunungpati Semarang. Hal itu untuk meningkatkan dan membangun rasa kebangsaan yang tinggi, kecintaan terhadap tanah air dan semangat gotong royong yang kuat.

Acara yang dibuka langsung oleh Panglima Kodam (Pangdam) IV/Diponegoro, Mayjen TNI Bayu Purwiyono ini juga dimeriahkan atraksi keahlian para prajurit kodam IV/Diponegoro. Di antaranya demo bela diri Yong Moo Doo serta simulasi pembebasan sandera oleh pasukan penanggulangan teror (gultor) Batalyon 400/ Raiders.

Menurut Pangdam, masalah disintegrasi moral dan disintegrasi sosial telah menjadi ancaman kebangsaaan yang paling potensial bagi Indonesia, terutama bagi nilai-nilai persatuan serta keutuhan bangsa. Di antaranya ditunjukkan dengan semakin rendahnya rasa saling menghormati, hilangnya rasa kebersamaan dan kegotongroyongan. Termasuk berkurangnya penghormatan terhadap nilai budaya dan agama serta munculnya sikap individual di tengah-tengah masyarakat.

”Akibatnya, sekarang gampang terjadi tawuran antar pelajar, tawuran antarkampung hingga tawuran antarmahasiswa serta konflik horizontal,” terangnya.

Sedangkan disintegrasi sosial, imbuh Pangdam, dapat diamati dari lunturnya nilai-nilai nasionalisme, tingginya intensitas konflik yang bernuansa SARA. Kondisi ini akan dapat dibendung dengan penguatan wawasan kebangsaan, nilai-nilai persatuan dan kegotongroyongan di kalangan generasi muda.

”Tak terkecuali di lingkup kegiatan Pramuka dalam mendorong berbagai kegiatan positif, kreatif dengan prinsip-prinsip kepribadian yang lebih mantap. Sehingga jerih payah para pendiri bangsa ini tidak sia-sia, hanya karena kita kurang peduli dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya. (dit/ida/ce1)