Pasar Belum Siap, Pedagang Resah

118
BELUM SIAP : Pasar darurat untuk pedagang Pasar Mranggen di Lapangan Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen hingga kini belum selesai dan belum dapat ditempati pedagang. (Wahib pribadi/pekalongan pos)
BELUM SIAP : Pasar darurat untuk pedagang Pasar Mranggen di Lapangan Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen hingga kini belum selesai dan belum dapat ditempati pedagang. (Wahib pribadi/pekalongan pos)
BELUM SIAP : Pasar darurat untuk pedagang Pasar Mranggen di Lapangan Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen hingga kini belum selesai dan belum dapat ditempati pedagang. (Wahib pribadi/pekalongan pos)

DEMAK – Pembuatan pasar darurat di lapangan Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen hingga kini belum selesai. Kondisi tersebut membuat pedagang Pasar Mranggen resah. Sebetulnya, sekitar 1.300 pedagang ini ingin pindah secepatnya dari lokasi lama di Pasar Mranggen. Namun, apa boleh buat, meski tenggat waktu pindah sudah habis pada Jumat (25/10) lalu, namun pedagang belum bisa direlokasi.

Ini terjadi akibat proyek pasar darurat senilai Rp 3,7 miliar yang digarap PT Haka Utama asal Makassar ini tidak kunjung selesai. Bahkan, tercatat molor tiga kali. Kini, dari 7 blok yang dibangun, masih ada sekitar 200 los dan kios di Blok A yang belum siap ditempati. Pintu-pintu kios juga belum dipasang termasuk urukan di depan kios maupun los belum dibereskan semua.

Penasehat Paguyuban Pedagang Pasar Mranggen (P3M), Bambang Haryanto mengungkapkan, belum siapnya pasar darurat yang dibuat dari bahan kayu dan triplek beratap seng itu membuat pedagang kebingungan. Menurutnya, semula rencana pindah tempat ke pasar darurat itu pada 1 Oktober lalu. Kemudian tertunda pada 14 Oktober serta tertunda lagi sampai 25 Oktober. “Tapi, sampai waktu pindah habis, pasar darurat belum layak ditempati. Padahal, semua ingin segera pindah ke pasar darurat itu,” ujar Bambang.

Dia mengatakan, adanya keterlambatan penyelesaian pasar darurat itu mengakibatkan pedagang dirugikan. “Selain resah juga khawatir pembangunan pasar Mranggen akan molor. Padahal, sudah dianggarkan Rp 15 miliar dari APBD Demak dan Rp 5 miliar dari APBN. Kita khawatir anggaran itu tidak terserap maksimal. Sebab, waktu pembangunan tidak ada 2 bulan,” katanya. Tak hanya itu, penjualan aset Pasar Mranggen juga belum beres. Satu sisi, standar harga yang dipatok pemerintah Rp 1,8 miliar. Namun, di sisi lain pembeli maunya di bawah Rp 1 miliar. “Kalau penjualan aset ini molor maka pembangunan pasar juga akan memakan waktu lagi,” ujar dia.

Pedagang lainnya, M Danang Indriyo menambahkan, pasar darurat yang belum jadi dirasakan tidak aman untuk ditempati barang dagangan. “Apalagi, fasilitas listrik juga belum siap sepenuhnya,” kata dia. Pengurus P3M lainya, Santoso mengatakan, pedagang setuju dipindah semua sementara di pasar darurat. Ini sesuai komitmen sebelumnya yakni setuju dengan dibangunnya Pasar Mranggen. “Kita sejak zaman Bupati Tafta Zani sudah setuju pasar dibangun. Asalkan, pemerintah memfasilitasi pembuatan pasar darurat,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Demak, Fahrudin Bisri Slamet menegaskan, pihaknya mendorong pasar darurat secepatnya diselesaikan. “Dengan begitu, pedagang bisa pindah dan pasar Mranggen dapat dibangun. Kita juga berharap, kontraktor memasang papan keterangan terkait bangunan pasar darurat ini supaya lebih transparan,” ingatnya.

Perwakilan PT Haka Utama Bagian Logistik, Totok mengungkapkan, molornya penyelesaian pasar darurat akibat tidak mulusnya akses jalan serta terlambatnya pengiriman bahan baku material ke lokasi pengerjaan pasar darurat. “Material sering terlambat datang sehingga penyelesaian terhambat,” katanya. Barang material bahan kayu glugu diantaranya didatangkan dari Boja, Kendal. Selain itu, adanya perubahan desain kios juga menambah molornya waktu penyelesaian bangunan tersebut. Dia mengatakan, yang paling belum siap ditempati adalah Blok A. “Tapi, kita berharap Senin (hari ini) sudah bisa dipakai,” katanya. (hib/ric)