INI AIB

370
Radar Semarang
Radar Semarang
Radar Semarang

Sudah hampir setengah jam aku berada di dalam toilet umum ini. Aku hanya bisa menangis tanpa melakukan apapun. Ini terlalu memalukan. Ini aib.
Kemudian aku merasakan hapeku bergetar dan terlihatlah nama pacar di sana. Sudah puluhan pesan singkat dan panggilan telepon darinya, tapi semua kuabaikan.

Apa yang harus aku katakana kepadanya tentang keadaanku ini. Aku gak mau buat dia malu. Aku gak bisa.

Mungkin aku harus menyuruhnya untuk meninggalkanku. Iya, aku harus mengatakannya.

Dengan berat hati kuangkat panggilan telepon darinya.

“Kina!!!! Kamu di mana?? Kamu gak papa kan sayang?? Sekarang di mana?? Kenapa gak balik – balik dari tadi??” tanyanya khawatir.

“Maafin aku mas,” kataku sambil terisak. “aku gak bisa balik ke kamu. Tinggalin aku.”

“Kamu ngomong apa sih??!! Kamu sekarang di mana??” tanyanya lagi.

“Aku gak bisa bilang. Aku udah gak ada muka lagi buat ketemu kamu. Aku terlalu memalukan buat kamu, mas.” kataku sambil menangis.

“Apa yang terjadi sebenernya?? Kamu gak apa – apa kan sayang?? Jangan buat aku khawatir kayak gini!!” ucapannya terdengar frustasi.

Tanpa menjawabnya lagi, aku langsung memutuskan sambungan telepon kami dan menonaktifkan hapeku.

Maafin aku mas Natan. Aku gak mau ngebuat kamu malu. Mending mas Natan ninggalin aku aja sekarang.

Aku hanya bisa menangis tanpa tahu berbuat apa. Mungkin ini akhir kisah cintaku dengan mas Natan. Mas Natan gak pantes dapet cewek super memalukan sepertiku. Aku harus merelakan mas Natan.

Setelah capek nangis di toilet, aku memutuskan untuk keluar dan cepat – cepat pulang.

Peduli amat dengan berpuluh – puluh mata yang memandangku jijik atau apa. Aku hanya ingin pergi dari keramaian ini.

“Kina!!” panggil seseorang dari arah belakangku.

Itu suaranya mas Natan. Tanpa berbalik, aku langsung saja lari untuk menghindarinya. Namun dengan keadaanku yang seperti ini malah membuatku susah untuk berlari.

“Berhenti!!” kata mas Natan sambil menarik lenganku.

“Jangan mendekat!! Mas Natan plis tinggalin aku,” kataku sambil terisak kembali.

“Sebenernya apa yang terjadi?? Adeknya, jangan kayak gini. Kalau aku punya salah, omongin. Jangan ngehindar kayak gini,” katanya sambil memegang kedua tanganku.

Aku menggelengkan kepala sambil masih meneteskan airmata.

“Mas Natan gak punya salah. Ini aibku. Aku gak mau mas natan ikut malu karenaku. Maafin aku.” kataku lagi.

“Persetan dengan aib! Aku tu sayang dan cinta sama kamu gak peduli bagaimanapun dirimu. Sekalipun sekarang kamu lagi hamil atau apapun itu, aku tetap cinta sama kamu. Kina, adeknya, apa yang terjadi?” katanya khawatir.

“Aku gak hamil.” Kataku sambil cemberut.

“Terus??” tanyanya bingung.

“Aku cuman..cuman..aachh!! ini memalukan!! Aku gak bisa bilang.” rengekku.

“Gak ada yang memalukan jika itu kamu. Percaya deh.” katanya meyakinkanku. “sekarang ngomong, kamu kenapa?”

“Aku ngompol di celana!! Aku bau, aku pesing!! Aku pengen mas Natan balik duluan. Tinggalin aku!! Aku bikin malu Mas natan!! Puas!!!” semprotku sambil mewek.

“Apa?? Hahahaha… kamu ngompol? Hahaha” mas Natan hanya menertawakanku sambil sesekali melihat celanaku yang basah kuyub.

Gila. Ini Aib terhina sepanjang sejarah hidupku. Tapi paling gak, sekarang aku tahu kalau mas Natan beneran cinta meskipun mungkin aku punya banyak aib hina – hina lainnya. Dapetin orang yang cinta tulus sama kita itu susah, dan ketika orang itu ada di depan kita, jangan sekali – kali mengabaikannya. Pertahankan dia, sebagaimana dia mempertahankanmu. Mas Natanku sayang, love ya!