BARUSARI – Budiarto, 62, warga Sidomulyo, Demak, mengaku jengkel lantaran tanah miliknya seluas 4.000 meter persegi tiba-tiba berubah kepemilikan. Atas hal itu, dia melaporkan seorang notaris, Liliana, 58, warga Jalan Kampung Kali, Semarang, ke Mapolrestabes Semarang, atas dugaan penyerobotan tanah.

Tanah yang terletak di Dukuh Kontrak RT 04 RW 03, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Semarang itu tanpa sepengetahuannya, berpindah kepemilikan. Terlapor mengklaim tanah tersebut miliknya, bahkan saat ini telah dijual kepada pengembang PT Dinar Mas.

”Saya tidak tahu, tiba-tiba di tanah milik saya ada dua bangunan rumah. Setelah saya cek, bangunan itu milik pengembang PT Dinar Mas. Saya sudah bertemu dengan Direktur PT Dinar Mas, Harsono. Anehnya, dia juga punya sertifikat tanah. Menurut penjelasannya, tanah itu dibeli dari Liliana. Lho kok bisa? Itu tanah milik saya,” ujarnya di Mapolrestabes Semarang, kemarin.

Dia sudah berusaha meminta penjelasan kepada Liliana, kenapa tanah miliknya tiba-tiba dijual dan ada sertifikat baru. Namun pihak Liliana tidak mau tahu. ”Saya malah ditawari uang Rp 14 juta sebagai gantinya. Ya jelas, saya menolaknya. Sekarang tanah itu senilai Rp 1 miliar,” kata Budiarto.

Budiarto sendiri mempunyai sertifikat tanah tersebut dengan atas nama Karminah. Dia membeli tanah tersebut pada tahun 1988. ”Saya tidak pernah menjual tanah tersebut kepada siapa pun. Lha kok bisa, tiba-tiba ada sertifikat baru dengan nama berbeda,” katanya tidak percaya.

Budiarto pada hari Jumat (24/10) lalu juga melakukan pengecekan. Saat ini, pembangunan dua rumah di tanah miliknya tersebut telah dihentikan oleh pihak pengembang. ”Sekarang pihak pengembang sudah tahu, jika tanah tersebut bukan milik Liliana,” katanya.

Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan kejanggalan. Sertifikat yang dijual kepada PT Dinar Mas oleh Liliana tersebut, atas nama Rohmat. ”Penjualannya sendiri dibantu oleh Yanti yang tak lain adalah karyawan Liliana,” imbuh Budiarto.

Atas hal itu, Budiarso memilih jalur hukum guna menyelesaikan perkara tersebut. Liliana dilaporkan atas dugaan memberikan keterangan palsu sesuai dengan pasal 266 KUHP dan juga penyerobotan tanah sesuai pasal 385 KUHP. Kasus ini resmi dilaporkan di Mapolrestabes Semarang pada Jumat (24/10), sekitar pukul 12.00. ”Saya berharap tanah milik saya bisa kembali,” katanya.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pihaknya sudah menerima laporan korban. ”Masih kami lakukan penyelidikan, nanti dilakukan pengecekan dan memanggil beberapa saksi untuk dimintai keterangan,” katanya.

Pihaknya akan memanggil pelapor, pemilik tanah versi korban, pihak Dinar Mas dan BPN. Pemanggilan tersebut guna mengetahui riwayat kepemilikan sertifikat tanah. ”Nanti akan diketahui kenapa ada dua sertifikat dengan dua nama di tempat yang sama,” ujarnya. (mg5/ida/ce1)