UNGARAN – Penularan HIV/AIDS di Kabupaten Semarang semakin mengkhawatirkan. Dalam satu bulan, Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Semarang mendata ada 20 orang positif HIV/AIDS baru yang ditemukan pada Oktober 2014 ini.

Tidak hanya pekerja seks komersial (PSK), tetapi juga ada temuan baru dari tokoh agama dan tokoh masyarakat serta seorang santri di Kabupaten Semarang. Sehingga ke depan akan dilakukan pemeriksaan HIV/AIDS hingga ke Pondok Pesantren dan Panti Asuhan.

Koordinator Wilayah PKBI Kabupaten Semarang, Mohamad Puji Santoso, mengatakan secara akumulasi di bulan Oktober ini paling banyak temuan positif HIV/AIDS sebanyak 20 orang. Temuan baru yang positif HIV/AIDS antara lain 2 orang tokoh agama dan 2 tokoh masyarakat positif, 1 keluarga yakni bapak, ibu dan bayi 1,5 tahun, 5 orang PSK yakni Tegal Panas, Pasar Bandarjo (Ungaran) dan Gamblok (Ambarawa).

Selain itu, temuan 4 orang penderita di komunitas Lelaki Suka Lelaki (LSL) saat digelar event kreasi seni waria, 3 janda serta 1 orang lelaki berisiko tinggi (pelanggan seks).

”Bulan ini temuannya paling banyak, ada 20 orang. Sedangkan bulan sebelumnya ada 11 orang ditemukan positif HIV/AIDS. Temuan penderita itu dari Puskesmas dan Rumah Sakit. Selain itu, temuan dari kegiatan razia PSK yang dilakukan polisi. Dari perhitungan kami, rata-rata setiap bulan ada temuan baru 1 sampai 5 orang penderita,” tutur Puji Santoso, Jumat (24/10) kemarin.

Puji mengatakan, fenomena meningkatnya penderita HIV/AIDS karena masih banyak PSK dan mobilitas lelaki pembeli seks (populasi jembatan) di Kabupaten Semarang. Bahkan penularan HIV/AIDS sudah sangat parah karena sudah memasuki ke semua lingkungan. Sehingga ada rencana untuk melakukan pemeriksaan HIV/AIDS hingga ke Pondok Pesantren (Ponpes).

”Rencananya, kami akan menyasar pemeriksaan HIV/AIDS di ponpes dan panti asuhan. Sebab dari referensi di beberapa daerah ada temuan kasus HIV/AIDS di dua tempat itu. Bahkan, kami juga telah mendampingi satu santri di sebuah Ponpes di Kabupaten Semarang. Selain itu, panti asuhan, karena panti asuhan menampung anak-anak jalanan. Rata-rata anak-anak jalanan itu cenderung free sex,” kata Puji.

Ditambahkan Manajer Kasus, Andreas Bambang, banyaknya temuan penderita HIV/AIDS karena meningkatnya efektivitas pelayanan rumah sakit dan puskesmas. Selain itu, aktifnya teman-teman LSM yang konsen dengan HIV/AIDS.

”Pelayanan Puskesmas dan RSUD semakin bagus. Seperti di Puskesmas Bergas yang mau melayani pemeriksaan HIV pada malam hari, di saat tingginya aktivitas para pelaku seks berisiko. Kami juga mengapresiasi dengan kepolisian yang bersama-sama melakukan razia dan pemeriksaan PSK,” ujar Bambang yang intim disapa Babe.

Babe menambahkan, pihaknya bersama PKBI akan menyasar organisasi perempuan seperti PKK dan Posyandu. Tujuannya menyelamatakan perempuan dan anak agar terhindar dari penularan HIV/AIDS atau memutus rantau penularan.

”Pemeriksaan dan penyuluhan di PKK dan Posyandu sudah berjalan di Kecamatan Suruh, Susukan, Bringin dan Getasan,” pungkasnya sembari mengatakan di bulan ini ada 1 penderita HIV/AIDS dari kalangan PSK yang meninggal.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, Widoyono mengatakan sampai sejauh ini pengidap HIV di Kota Semarang tercatat 61 orang sejak Januari hingga Juli 2014 dengan tercatat 46 laki-laki dan 15 perempuan.

“Terbanyak pada April mencapai 26 orang. Tahun 2013, total komulatif mencapai 414, kasus AIDS dengan angka kematian mencapai 7 orang. Sedangkan Januari-September 2014 total kumulatif 432 dengan kasus AIDS berjumlah 18, angka kematian 1 orang,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Jumat, (24/10) kemarin.
Data DKK Kota Semarang, berdasarkan laporan klinik VCT di Kota Semarang, total kumulatif kasus HIV tahun 2013 mencapai sampai 2.661 orang, dengan jumlah penderita mencapai 430 orang baik dari dalam maupun luar Kota Semarang. Pada tahun 2014, Januari sampai September berjumlah yakni 3.004, dengan kasus penderita HIV 342 orang.

Kalau dilihat rata-rata jumlah terbanyak sampai tahun 2014 didominasi dari kalangan ibu rumah tangga yang mencapai 23 persen. Diduga faktor adanya penularan dari suami yang melakukan seks di luar hubungan resmi tanpa menggunakan pengaman atau kondom. Sedangkan karyawan berkisar 21 persen, buruh 8 persen, sopir 3 persen, mahasiswa 2 persen.

Widoyono menambahkan, untuk menekan jumlah tersebut, pihaknya terus menggiatkan program P2 HIV dan AIDS. Program tersebut di antaranya melakukan sosialisasi bahaya penyakit HIV/AIDS serta mengubah perilaku pengetahuan pada tempat berisiko seperti diresosilisasi.

“Penggunaan kondom 100 persen juga harus dilakukan khususnya bagi pria yang sering melakukan hubungan seksual yang bergonta-ganti. Sebab kalangan penularan HIV/AIDS didominasi dari kaum laki-laki. Selanjutnya program menyediakan pemeriksaan pada klinik VCT untuk pendeteksian,” ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, dalam rumah sakit atau puskemas telah melakukan program terapi metadon. Terapi ini untuk pelaku yang senang mengonsumsi narkoba dengan alat suntik yang bisa membawa dampak terjadinya penularan penyakit HIV/AIDS.

“Obat ini semacam sirup yang berfungsi untuk terapi. Tentunya, harus menggunakan resep dan hanya pada rumah sakit tertentu atau yang dikhususkan. Jadi tidak mengonsumsi narkoba dan tidak menggunakan alat suntik. Selain itu pencegahan ibu ke anak,” pungkasnya. (tyo/mg9/ida/ce1