JAMAS PUSAKA: Ndaru Handoko Aji kebanjiran order menjamas pusaka tiap menjelang bulan Suro. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
JAMAS PUSAKA: Ndaru Handoko Aji kebanjiran order menjamas pusaka tiap menjelang bulan Suro. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
JAMAS PUSAKA: Ndaru Handoko Aji kebanjiran order menjamas pusaka tiap menjelang bulan Suro. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

BULAN Suro atau Muharam, dalam hitungan Jawa merupakan bulan yang identik dengan kesakralan. Banyak aktivitas yang dilakukan pada bulan ini. Di antaranya, kungkum, semedi di tempat yang dianggap sakral, dan penjamasan pusaka. Penjamas pusaka di Kota Semarang pun kebanjiran order penjamasan dari berbagai jenis pusaka, seperti keris, tombak dan pedang.

Dari sederetan nama penjamas pusaka di Kota Semarang, adalah Ndaru Handoko Aji, warga Jalan Batan Timur Raya. Tiap menjelang bulan Suro, dirinya banyak menerima permintaan menjamas pusaka, karena dianggap sebagai bulan yang keramat.

Pria yang menekuni jasa penjamasan pusaka sejak 28 tahun itu mengungkapkan bahwa penjamasan dimaksudkan untuk menyucikan dan membersihkan pusaka yang dimiliki, terutama untuk pusaka bertuah yang sudah berusia ratusan tahun.

”Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, benda bersejarah, benda kuno, termasuk benda-benda yang dianggap memiliki tuah. Jangan hanya dilihat mistisnya,” kata Ndaru kepada Radar Semarang, Jumat (24/10).

Ndaru mengatakan bahwa permintaan penjamasan pusaka di rumahnya meningkat pada bulan Suro, bisa mencapai 500 sampai 700 pusaka dalam bulan. Untuk penjamasan, ia mematok harga mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung dari kesulitan dan jenis pusaka yang akan dijamas.

Meski begitu, tidak semua pusaka yang dijamasnya merupakan senjata bertuah, karena banyak pemilik pusaka baru yang meminta jasanya untuk menghilangkan karat yang mengganggu. ”Terkadang proses penjamasan pusaka juga diminta oleh pemilik pusaka dengan model apa yang mereka inginkan,” lanjut Ndaru.

Dalam penjamasan, ubo rampe yang dibutuhkan antara lain kembang setaman, jeruk pecel, cairan khusus bernama warangan dan air kelapa. Pusaka yang biasa dijamas tidak hanya keris, tetapi juga pedang, tombak hingga tlempak sejenis tongkat yang di dalamnya berisi tombak.

Berbagai jenis keris pun sudah pernah dia jamas, mulai dari keris tilam sari, kiai sengklat, jalak sangu tumpeng dari zaman kerajaan Majapahit, Mataram yang berumur ratusan tahun. Pelanggannya merupakan kolektor atau pencinta pusaka yang berasal dari luar kota seperti Jepara dan Kudus.
Selain membuka jasa penjamasan, Ndaru juga melakukan jual beli pusaka. Saat ini sudah ada 700 koleksi pusaka miliknya. ”Harga pusaka sangat bervariasi. Mulai dari Rp 500 ribu sampai jutaan rupiah,” katanya. (*/ida/ce1)