Budayawan Tuntut Warak Ngendog Asli

185

SEMARANG – Bentuk Warak Ngendog yang merupakan ikon Kota Semarang, sekarang ini telah mengalami degradasi dari bentuk aslinya. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada bentuk bagian kepala. Yakni, bagian kepala justru mirip kepala leang-leong, padahal bentuk aslinya cenderung menyerupai kepala kambing. Hal itu membuat khawatir sejumlah budayawan Kota Semarang.

”Kalau sesuai bentuk aslinya, bagian kepala kotak bersudut lurus, garisnya kaku, seperti kepala kambing. Kalau Warak Ngendog sekarang ini lebih cenderung berkepala naga yang ada lidahnya dan menjulur,” kata Budayawan Kota Semarang, Djawahir Muhammad kepada Radar Semarang, Jumat, (24/10) kemarin.

Selain itu, katanya, gambar Warak Ngendog saat ini berkepala naga dan tidak ada endog atau telurnya. Padahal endog merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi Warak Ngendog yang menjadi ikon Kota Semarang,” ungkapnya.

Menurutnya, pelestarian simbol sesuai aslinya sangat penting, karena memiliki nilai filosofis yang tinggi. Warak Ngendog merupakan binatang mitologis yang menjadi simbol pemersatu tiga etnis mayoritas di Kota Semarang, yakni etnis China, Arab, dan Jawa. Hewan imajiner ini biasanya dijadikan maskot dalam festival Dugderan yang dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan puasa di Kota Semarang.

”Karena itulah, kami khawatir, rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan pembangunan patung Warak Ngendog di sejumlah taman kota, tidak sesuai dengan aslinya Warak Ngendog. Kami tidak ingin, Warak Ngendog melenceng dari bentuk aslinya,” tandasnya.

Menurutnya, Warak Ngendog aslinya memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam sudut yang lurus dan garis yang tegas pada bagian kepala Warak Ngendog bentuk asli, menggambarkan sifat orang Semarang lurus dan apa adanya, tidak leda-lede alias berbasa-basi. ”Kami tidak mencari kesalahan terhadap visual Warak Ngendog. Hanya saja, dengan sepenuh hati Forum Budayawan Semarang ingin meluruskan bentuk dan makna Warak Ngendog sesuai aslinya, sebelum Pemkot Semarang membangun patung tersebut,” katanya.

Budayawan, katanya, hanya mengingatkan supaya perubahan bentuknya Warak Ngendog tidak kebablasan dan mengubah arti serta makna dan kesejarahannya. ”Selain itu dari pengamatan kami, sejauh ini orang Semarang juga tidak punya niatan mengubah karakternya yang lurus dan tegas ke arah karakter yang leda-lede. Kami nantinya juga akan menggelar demo damai dengan menggunakan baju koko dan kopiah untuk meluruskan Warak Ngendog ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunitas Musik Melayu Indonesia Kota Semarang, Ali Khan turut mengkhawatirkan pergeseran tersebut. ”Kami khawatir pembangunan taman di Kota Semarang yang menggunakan ikon Warak Ngendog akan mengalami pergeseran menjadi berkepala leang-leong. Sebab bentuk kepala itu memiliki ciri khas watak masyarakat Kota Semarang yang lurus dan tidak leda-lede,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)