MUI Berperan Cegah Konflik

112
Wahibpribadi/Radar Semarang
Wahibpribadi/Radar Semarang
Wahibpribadi/Radar Semarang

DEMAK – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki peran strategis dalam menjembatani berbagai pemeluk agama yang berbeda di Indonesia. Karena itu, MUI diminta lebih aktif dalam melakukan kegiatan di masyarakat. Ini diperlukan supaya ada kesepahaman bersama agar bisa mencegah konflik sekecil apapun dimasyarakat yang terkait agama.

Demikian mengemuka dalam Silaturahmi dan Dialog Antar Umat Beragama yang digelar Kantor Kesbangpolinmas Demak dengan MUI setempat di gedung Bina Praja, kemarin. Hadir dalam pertemuan ini Ketua MUI Demak KH Muhamad Asyiq, Asisten I Setda AN Wahyudi, Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai, Ketua FKUB Jateng Prof Mujahirin Thohir, Ketua FPBI Demak, Johanes Warsis, dan Sekretaris MUI Demak, Abdurrahman Kasdi.

Kasubag TU Kesbangpolinmas Demak, Muslihin mengatakan, pihaknya sengaja mengundang berbagai tokoh agama tersebut untuk saling berdialog berdasarkan pengalamannya masing-masing selama ini. “Kita undang dari kalangan muslim dan non muslim. Ada sekitar 100 undangan,”ujar Muslihin, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai mengatakan, silaturahmi dan dialog yang digelar diharapkan mampu menjembatani elemen antar agama-agama yang berbeda di Demak. “Supaya ada pemahaman yang sama dalam mensikapi berbagai persoalan di masyarakat,”katanya.

Ketua FKUB Jateng, Mujahirin Thohir mengungkapkan, tugas tokoh agama adalah mengurangi kesalahan dan merubah yang salah itu menjadi benar. “Dalam dunia ini pasti ada dikotomi. Ada kiai, ada pula pendeta. Ini karena didunia ini masih ada kemaksiatan. Disinilah MUI bertugas mempertemukan kita semua ini,”katanya.

Mujahirin menambahkan, konsep saling hormat menghormati bisa menghilangkan konflik agama di masyarakat. Menurutnya, munculnya gerakan radikal keagamaan bisa terjadi akibat pemahaman terhadap agama yang salah. “Bisa juga akibat pahamnya yang salah,”katanya. Sekretaris MUI Demak, Abdurrahman Kasdi menambahkan, perbedaan adalah hal yang wajar.(hib/sas)