SEDERHANA TAPI SAKRAL: Tersangka tindak pidana pengeroyokan, Moch Isrofi alias Ambon, 25, menikahi gadis pujaannya Surohmah di Musala Mapolsek Semarang Utara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 SEDERHANA TAPI SAKRAL: Tersangka tindak pidana pengeroyokan, Moch Isrofi alias Ambon, 25, menikahi gadis pujaannya Surohmah di Musala Mapolsek Semarang Utara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEDERHANA TAPI SAKRAL: Tersangka tindak pidana pengeroyokan, Moch Isrofi alias Ambon, 25, menikahi gadis pujaannya Surohmah di Musala Mapolsek Semarang Utara. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

Meski cobaan menghadang, kadang cinta tak pandang rintangan. Meski berstatus sebagai seorang tahanan, Moch Isrofi alias Ambon, 25, membuktikan keseriusan cintanya dengan menikahi gadis pujaannya, Surohmah, di kantor Mapolsek Semarang Utara. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS
HANYA berbekal maskawin Rp 100 ribu, upacara sakral pernikahan sang tahanan ini penuh haru. Air mata tak sanggup tertahan membasahi pipi kedua mempelai. Bibir tersangka terkatup saat mengucap kalimat ijab kabul kepada calon istri tercintanya.

Rabu (22/10), sekitar pukul 10.30, Ambon dengan mengenakan kemeja putih berpeci hitam, keluar dari dalam sel tahanan Mapolsek Semarang Utara. Dia yang tertatih akibat kakinya ditembak, dibantu petugas menuju musala yang terletak di barat Polsek.

Surohmah dengan mengenakan jilbab abu-abu sudah menunggu di dalam musala tersebut dengan tegar, meski hanya bisa menunduk. Sebanyak enam orang dari kedua belah pihak mempelai yang datang dari Kebumen, mendampingi dengan hikmat.

Dengan dijaga dua petugas polisi, prosesi ijab kabul itu berlangsung sederhana tanpa pesta apa pun. Ritual pernikahan sang tahanan tersebut tertutup untuk umum. Sejumlah warga dan wartawan hanya bisa mengintip dari celah kaca nako di jendela musala.

Tak lama kemudian, Kepala KUA Semarang Utara, Darun Khasnah selaku penghulu memimpin prosesi pernikahan tersebut. Tahanan kasus pengeroyokan yang mengakibatkan tangan korbannya putus ditebas celurit itupun menangis. Terlebih saat melihat mempelai wanita dengan tenang menerima maskawin dengan uang tunai Rp 100 ribu.

”Kami lega, pernikahan kedua mempelai berhasil dilaksanakan dengan lancar. Ini memang sesuai tanggal sebagaimana direncanakan,” ungkap paman mempelai wanita, Hadirin, 54, ditemui wartawan usai ijab kabul tersebut.

Dikatakannya, acara pernikahan tersebut berlangsung menggunakan adat Jawa. Menurut kepercayaan kedua belah keluarga, lanjutnya, hari dan tanggal tersebut tidak baik jika pernikahan dibatalkan.

”Sesuai adat yang kami percaya, rencana ini tidak bisa ditunda. Hari dan tanggal pelaksanaan ijab kabul ini sudah direncanakan sebelum ditangkap. Alhamdulillah lancar,” ungkapnya.

Kendati demikian, kedua mempelai di kampung halamannya sudah telanjur menyebar undangan pernikahan. Terpaksa, acara pernikahan di kampung asal kedua mempelai di Kebumen tersebut, dibatalkan karena acara beralih tempat di Mapolsek Semarang Utara. ”Intinya pernikahan tidak gagal, kami sudah lega. Soal bertemu keduanya kapan, kami belum tahu,” imbuhnya.

Kedua mempelai pengantin itu saat ditanya wartawan tetap menunduk dan enggan berbicara. Bahkan Ambon terus menangis tak kuat menahan kenyataan, bahwa beberapa menit setelah ijab kabul, ia harus digiring menuju ruang sel tahanan. Tentu saja, pasangan pengantin baru ini tak bisa menikmati indahnya bulan madu.

Kepala KUA Semarang Utara, Darun Khasnah mengatakan bahwa upacara sakral dilaksanakan di Polsek ataupun di Lapas, tidak kali pertama dilakukan. ”Tapi kalau acara ijab kabul di tempat seperti ini tidak ada guyonan. Biasanya di sela-sela acara ada candaan pencair suasana,” katanya.

Sementara itu, Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono mengatakan bahwa para tahanan akan tetap mendapatkan hak-haknya, seperti pernikahan. Namun tetap ada batasan-batasan ataupun aturan-aturan yang diberlakukan. ”Itu hak mereka, kami tetap memberikan atau memfasilitasinya. Hal yang tidak boleh misalnya perayaan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Moch Isrofi alias Ambon, adalah tersangka tindak pidana pengeroyokan yang menyebabkan tangan kanan korban, Dwi Rahmanto, 15, terputus akibat ditebas menggunakan celurit di Jalan Imam Bonjol Semarang, beberapa waktu lalu. Dia ditangkap bersama rekannya seorang mahasiswa bernama Asaf Radika, pada Minggu (12/10) lalu. Hingga saat ini, tim kepolisian masih memburu satu pelaku lain yang masih buron. (*/ida/ce1)