69 Persen Guru di Indonesia Belum Bisa mendidik

129

TEGALSARI – Maraknya kasus kekerasan yang terjadi di sekolah membuktikan masih banyak guru belum bisa mendidik muridnya dengan benar. Hal tersebut diungkapkan pemerhati anak, Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal Kak Seto.

Kak Seto mengatakan faktor utama kekerasan di dalam dunia pendidikan terjadi karena pengawasan dan kemampuan guru dalam mendidik siswa juga dinilai sangat kurang. “Saya mensurvei, sebanyak 69 persen guru di Indonesia itu belum bisa mendidik. Artinya, wajar jika banyak terjadi kasus kekerasan antar siswa, bahkan yang melakukan itu guru terhadap siswanya sendiri,” kata Seto kepada Radar Semarang, kemarin (19/10).

Menurut Kak Seto, kekerasan di sekolah merupakan tanggungjawab pihak sekolah. Hal tersebut sesuai dengan undang-undang perlingdungan anak Nomor 23 Tahun 2002 yang mengamanatkan, setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. “Sesuai dengan undang-undang itu, jika kekerasan anak terjadi disekolah, jelas yang bertanggung jawab yaitu sekolah maupun dinas terkait,” ujar Seto.

Dia menilai kekerasan di dalam dunia pendidikan terutama sekolah selama ini hanya bersifat pemberitaan. “Belum ada penanganan yang serius dari pemerintah. Kesannya pemerintah membiarkan,” tutur Seto.

Ia berharap, pemerintahan Indonesia yang baru nanti dapat melakukan langkah strategis agar kekerasan di dunia pendidikan dapat berkurang. “Pemerintah ke depan juga harus melakukan blusukkan ke sekolah-sekolah. Agar ia tau apa yang dirasakan oleh guru dan apa yang dirasakan oleh siswa, jangan hanya blusukkan ke tempat-tempat kumuh,” pungkas Seto.

Sementara itu, Mantan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah, Sudharto mengatakan guru seharusnya diberikan pembekalan bagaimana mendidik siswa kembali dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan. “Selama ini guru memperoleh psikologi pendidikan kan hanya dari saat ia masih duduk dibangku kuliah,” kata Sudharto.

Senada dengan yang dikatakan oleh Seto Mulyadi, Sudharto juga berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi disekolah merupakan tanggungjawab dari guru maupun pihak sekolah. Ia menilai kasus kekerasan di sekolah mulai marak sejak 5 tahun terakhir.

Terpisah, Psikolog Probowatie Tjondronegoro menilai kekerasan yang terjadi di sekolah merupakan bentuk keteledoran sekolah dalam hal pengawasan tumbuh kembang siswa.“ Kebanyakan terjadi guru sibuk menyiapkan apa yang harus di ajarkan, tanpa melihat apa yang seharusnya diberikan bagaimana mendidik anak,” kata Probo. (ewb/zal)