Tidak buta dengan gemerlapnya harta. Itulah Basuki, pemilik motor antik BSA tahun 1953, jenis plunger made in Inggris. Ia rela menolak motornya dibeli wisatawan mancanegara dengan harga tinggi. Seperti apa?

M. HARIYANTO

MENYELAMATKAN barang antik lebih penting daripada menyimpan uang banyak. Itulah prinsip lelaki asal Kota Solo untuk menyelamatkan benda kuno atau barang antik.

”Pernah ditawar bule. Tadinya hanya melihat-lihat, namun akhirnya tertarik dengan motor antik saya. Dia menanyakan kepada saya, mau dijual atau tidak? Kalau dijual berapa? Tapi dengan tanpa basa-basi langsung saya jawab, tidak dijual. Not for sale. Bule itu hanya tersenyum. Sebab kalau saya jual, barang kuno itu lama-kelaman akan habis. Dan ini merupakan sejarah saya,” kata Basuki, 38, kepada Radar Semarang.

Seniman yang pernah duduk di IKIP Semarang ini mengaku alasan penolakan itu lantaran ingin menyelamatkan aset negara. Dirinya tidak ingin barang kuno yang dimiliki negaranya, hilang dan berpindah tangan ke negara asing. Meskipun hilangnya barang antik itu tergantikan dengan uang ratusan juta rupiah.

”Saya akui, dulunya motor antik ini saya beli dengan harga murah. Andaikata saya jual pun, bisa saya tawarkan dengan harga sangat tinggi. Paling tidak, harganya sekelas harga mobil Honda CRV. Itu sudah wajar, kalau orang yang mau beli dengan dasar hobi atau kesenangan, pasti tanpa ada tawar-menawar harga,” tegas penghobi seni rupa ini.

Menurutnya, motor 4 tak BSA tahun 1953 jenis plunger itu, dia dapatkan 4 tahun silam dari seseorang penjual motor di Kota Solo seharga Rp 5 juta. Uang pembelian motor antik itu, ia peroleh dari uang hasil keringat sendiri dalam berjualan benda antik. Bahkan ia kumpulkan dengan menabung bertahun-tahun.

”Uang sebanyak itu dari mana kalau tidak menabung. Uang sedikit demi sedikit saya kumpulkan sejak masuk kuliah semester awal, sekitar tahun 1993. Baru tercapai bisa membeli, sekitar tahun 2010,” ujar pria jebolan SMA Negeri 3 Solo ini.
Pembelian motor tersebut, diakuinya, terinspirasi dari dentuman suara kenalpot motor gede yang berkeliling di Alun-Alun Kota Solo. Hingga pada akhirnya, rasa penasaran untuk memiliki timbul dari dalam lubuk hatinya.
”Suara dum dum dum yang berasal dari knalpot motor gede (moge) itu, saya ikuti terus ke mana arahnya. Hingga akhirnya berhenti di alun-alun. Dari situlah hati saya timbul keinginan timbul untuk memiliki,” kenang pria berjenggot dengan pakaian favorit warna hitam ini.

Meskipun motor BSA sudah terlihat tua, katanya, onderdilnya sangat mudah didapat. Selain itu, service dan dandannya juga tidak terlalu rumit. Menurutnya, onderdil itu bisa didapat melaui internat lewat komunitas motor antik. Sedangkan service bisa dilakukan oleh mekanik komunitas motor itu sendiri.

”Onderdil sekarang nyarinya tidak susah seperti dulu. Kalau yang sudah masuk komunitas, pasti mudah. Tapi kalau masih individu gitu ya, rada sedikit kesulitan,” paparnya.

Selama berkecimpung ke komunitas motor antik, dirinya sudah melakukan touring keluar kota bahkan luar Jawa. Selama ini, dia kerap nongkrong setiap Jumat Malam di Jalan Pahlawan bersama komunitas Motor Antik Club (MAC) yang beranggotakan ratusan pemilik motor.

”Di Semarang sendiri ada sekitar 200 motor antik. Kalau seluruh Indonesia ya mencapai ribuan. Kami sama teman-teman kerap nongkrong depan Telkom Jalan Pahlawan,” jelasnya.

Komunitas ini kerap mengadakan jambore nasional motor klasik se-Indonesia yang diadakan setiap setahun sekali. Tahun ini, diselenggarakan kemarin tanggal 23 Agustus di Jawa Barat.

”Kalau tahun kemarin di Lampung. Kegiatan tahun depan yakni Rakernas, tempatnya belum ditentukan. Kalau kegiatan jambore rencana diminta tuan rumah Gresik,” pungkasnya. (*/ida/ce1)