KALISARI – Bangunan Rumah Singgah milik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi yang terletak di Jalan Dr Sutomo Semarang, belum bisa dinikmati seluruh pasien pengguna BPJS. Pasalnya bangunan yang diresmikan awal tahun 2014 oleh Gubernur Ganjar Pranowo, sangat kecil dan hanya memiliki jumlah ruangan yang sangat terbatas.

Bangunan tersebut hanya memiliki satu ruangan kemudian disekat-sekat untuk 16 tempat tidur dan 2 kamar mandi. Fasilitas yang disediakan sungguh tidak seimbang dengan jumlah pasien pengguna BPJS yang mendaftar ke RS rujukan bagi seluruh masyarakat Jateng ini. Akibatnya, masih banyak pasien pengguna BPJS yang belum mendapatkan kamar rawat inap di RSUP dr Kariadi, terpaksa tidur seadanya beralaskan tikar di ruang tunggu pendaftaran pasien.

Sanuri, warga Pekalongan yang menunggui istrinya sakit terpaksa menginap di Rumah Singgah. Menurutnya, ruang di Rumah Singgah hanya diperuntukkan pasien BPJS. Sedangkan penunggu terpaksa tidur di bawah.

”Satu ruang untuk dua orang saja. Pasien berada di kasur, sedangkan penunggu tidur seadanya di lantai. Itu mungkin sudah aturan dari rumah sakit dr Kariadi,” jelasnya kepada Radar Semarang, beberapa waktu lalu.

Padahal, pasien yang ingin mendapatkan ruangan di Rumah Singgah harus mengantre terlebih dahulu di Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI) atau pendaftaran pasien pengguna BPJS. Menurutnya antrean itu terjadi karena banyaknya pasien pengguna BPJS yang mendaftar di TPPRI juga sangat banyak.

”Sebelum dapat ruangan di Rumah Singgah dan belum dapat kamar rawat inap di RSUP dr Kariadi, kami pernah tidur seadanya di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) bersama istri yang kondisinya juga sakit,” ujarnya.

Pasien yang menginap di Rumah Singgah, katanya, dikenakan biaya Rp 10.000 per hari. Meski demikian, pihaknya terpaksa menginap di tempat tersebut hampir satu bulan lamanya.

”Kalau saya pulang, harus meninggalkan kartu identitas berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sebab kalau tidak, kamar itu langsung dipergunakakan untuk pasien berikutnya,” paparnya.

Menurutnya, lamanya dia menginap lantaran istrinya yang masih dalam keadaan sakit dan membutuhkan perawatan medis di RSUP dr Kariadi. Selain itu, dokternya juga belum memberikan keputusan terkait hasil penyakit istrinya.

”Kalau istri saya bawa pulang, justru membutuhkan biaya banyak. Selain itu, kondisinya yang masih sakit harus dilakukan check up ke dokter dan sekalian mengambil hasil laboratorium,” keluhnya.

Sementara, Suhud mengakui terpaksa tidur di depan ruangan IGD selama dua hari beralaskan tikar. Hal ini dilakukan, lantaran keluarganya yang mengalami sakit kronis mata belum juga mendapatkan ruangan rawat inap.

”Meskipun dokter sudah menangani ibu saya dengan memberi tetes mata dan pil, namun belum bisa mendapatkan kamar. Nantinya kalau dokter belum juga bisa memutuskan kapan dioperasi, terpaksa saya bawa pulang,” keluhnya.
Pihaknya berharap, secepatnya bisa mendapatkan kamar untuk ibunya. Suhud juga berharap RSUP dr Kariadi membuatkan tempat fasilitas bagi pengunjung pasien yang lebih nyaman.

”Yang jaga ibu saya di ruang IGD harus gantian dengan kakak saya. Sebab yang jaga hanya diperbolehkan satu orang. Sementara saya terpaksa tidur di depan taman atau di tempat seadanya,” terangnya.

Hal sama juga dialami anaknya Sumiyati, warga Brebes yang terpaksa tidur seadanya di taman beralaskan tikar. Hal itu dilakukan lantaran belum adanya keterangan lebih lanjut dari dokter setelah dilakukan pengecekan penyakit.

”Saya dan anak saya harus menunggu. Sebenarnya saya juga kasihan kepada anak saya yang tidur di taman karena masih menunggu hasil laboratorium. Entah sampai jam berapa saya belum tahu. Sebab dari jam 7 pagi periksa, sampai jam 1 siang belum ada panggilan,” imbuhnya.

Sementara itu, petugas Rumah Singgah yang berada di Jalan Sutomo yang enggan disebutkan namanya hanya menjelaskan pasien yang mau menginap di Rumah Singgah harus mendaftar terlebih dahulu ke TPPRI. Selain itu, pembayaran bagi pasien yang menginap dikenakan Rp 10.000. ”Pembayaran itu berlaku mulai 22 September 2014,” ungkapnya.

Namun demikian, ketika ditanyakan sebelumnya tanggal itu diberlakukan pembayaran berapa, petugas enggan berkomentar. Hal yang sama juga disampaikan petugas TPPRI yang enggan disebutkan namanya. Hanya saja, pasien yang mau masuk menggunakan Rumah Singgah harus terlebih dahulu mendaftarkan diri. ”Kamar di Rumah Singgah sudah penuh semua, yang ngantre juga masih banyak,” tegasnya.

Sementara itu, Bagian Hubungan Masyarakat RSUP dr Kariadi, Ahmadi mengakui bangunan Rumah Singgah hanya diperuntukkan untuk pasien yang tidak mampu. Rumah Singgah tersebut bersifat sosial dan di luar tugas pokok RSUP dr Kariadi.

”Pasien yang menginap di Rumah Singgah dikenakan biaya Rp 10.000, sifatnya sosial. Jadi pembangunan Rumah Singgah tersebut masih menyesuaikan kondisi pengunjung RSUP dr Kariadi yang belum mengalami lonjakan,” paparnya.

Lanjutnya, terkait penambahan fasilitas umum, pihaknya belum bisa memastikan adanya penambahan. Namun rencana ke depan pembangunan masih dalam bentuk wacana.

”Wacana ke depan, jika nantinya akan diadakan penambahan bangunan Rumah Singgah tentunya akan ditempatkan pada lahan samping Rumah Singgah yang sudah jadi. Kalau untuk penambahan bangunan dan kamar kecil di dalam lingkungan RSUP dr Kariadi, kami masih melakukan evaluasi,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)