SEMARANG TENGAH – Seorang janda muda terpaksa mendekam di sel tahanan Mapolrestabes Semarang, setelah tepergok menjual narkoba jenis sabu-sabu di toko aksesori di Jalan Kartini Semarang. Adalah Endang Sulastri, 26, warga Desa Sembungharjo RT 02/RW 01, Genuk, Semarang.

”Dia mengelabui petugas dengan cara menjual sabu-sabu secara terselubung di toko aksesori di Jalan Kartini yang dia jaga,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Djihartono, saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa kemarin (14/10).

Tim Reserse Narkoba Polrestabes Semarang berhasil mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya 4 paket sabu-sabu, 1 kantong plastik kosong bekas sabu, 1 timbangan digital dan dua buah handphone yang digunakan untuk transaksi. ”Berdasarkan pengakuannya, dia baru lima bulan berjualan sabu,” imbuhnya.

Modus yang digunakan, tersangka Endang mengaku membeli sabu kepada seseorang yang tidak dikenal melalui handphone. Lalu barang haram tersebut diambil di sebuah tempat. ”Bisa di bawah pot, di bawah pohon, dan lain-lain. Uang pembelian ditransfer ke rekening bank,” kata Juli.

Dalam peredarannya, Endang melayani pembeli yang telah menjadi jaringannya melalui SMS. Setiap 1 gram sabu, tersangka membeli seharga Rp 1,1 juta, namun dijual kepada para pembelinya sekitar Rp 1,3 juta. ”Tersangka kami tangkap pada Rabu (8/10) sekitar pukul 12.00, di tempat usahanya tersebut,” imbuhnya.

Endang sendiri mengaku, menjual sabu karena tergiur keuntungan besar. ”Saya untung Rp 200 ribu per gram. Ini baru lima bulan,” katanya.

Para pembelinya, kata Endang, biasa memesan melalui ponsel. Setelah tawar-menawar harga, kemudian ia mengirimkan ke alamat tertentu. Antara pembeli dan penjual tidak saling kenal dan tidak melakukan tatap muka, karena barang tersebut ditaruh di sebuah tempat. ”Biasanya saya letakkan di bawah pohon, atau di pinggir jalan di bawah tiang listrik. Pembayarannya dilakukan secara transfer,” katanya.

Bisnis barang haram itu akhirnya tercium oleh petugas Satuan Narkotika dan Obat Berbahaya Polrestabes Semarang, sebelum akhirnya dibekuk berikut barang buktinya.

Kepala Satuan Reserse Narkoba, AKBP Juli Agung Pramono menambahkan, selain menangkap tersangka Endang, pihaknya juga menangkap sebanyak 11 pengedar narkotika jenis sabu dan ganja di tempat terpisah.

Masing-masing adalah Fasa Gufanatta, 24 dan Andre Prijanto, 34, warga Jagalan Malang, Jagalan, Semarang Tengah. ”Keduanya ditangkap di sebuah rumah kos di Jalan Prembaen, Kembangsari, Semarang Tengah, Minggu (5/10) sekitar pukul 19.00. Barang bukti 5 paket sabu-sabu dan 2 linting ganja,” katanya.

Berikutnya adalah remaja di bawah umur SGH, 16, dan Herry Purnomo, 24, warga Jalan Lodan, Bandarharjo, Semarang Utara. ”Mereka kami tangkap di sebuah rumah kontrakan di Jalan Lodan, Bandarharjo, Semarang Utara, Selasa (7/10) sekitar pukul 15.00. Barang bukti 1 timbangan digital, 1 perangkat alat isap dan uang Rp 40 ribu,” imbuhnya.

Begitu pun dengan tersangka Agus Setiono, 27, warga Bangetayu Kulon, Genuk, dia juga ditangkap di sebuah kamar kos, Selasa (26/8) sekitar pukul 18.30. Barang bukti, 3 paket sabu dan 1 unit handphone.

Cahyo Pramono, 32, warga Jalan Widuri, Bangetayu, Genuk, ditangkap di Jalan Kaligawe depan SPBU, Rabu (27/8) sekitar pukul 17.00. ”Barang bukti 2 paket sabu dan 1 kantong plastik bekas bungkus sabu,” katanya.

Bambang Suprayitno, 31, warga Panggung Kidul, Semarang Utara, ditangkap Rabu (3/9) sekitar pukul 19.00. Barang bukti, 1 paket sabu, satu paket alat isap dan 4 kantong plastik kosong bekas sabu.

Mulyono, 25, dan Muh Jahri, 25, warga asal Dusun Temana, Tanjungbumi, Bangkalan, ditangkap di belakang SPBU Sriwijaya, Semarang, Rabu (8/10) sekitar pukul 11.30. Barang bukti, 1 paket sabu dan 1 alat isap serta Mulyadi, 34, warga Tlogosari Kulon, Pedurungan ditangkap di rumahnya, Rabu (8/10) sekitar pukul 16.00. ”Peredaran sabu masih sangat berbahaya karena transaksinya tersembunyi dan mereka saling tidak mengenal,” kata Juli Agung Pramono.

Karena itu, pihaknya akan terus melakukan pengusutan hingga bandar besarnya. Sejauh ini, segala kemungkinan pelaku peredaran narkoba bisa saja terjadi. Termasuk peredaran di LP. ”Bisa saja penghuni LP membeli, atau bahkan menjual sabu. Semua kemungkinan bisa saja terjadi,” katanya.

Para tersangka yang telah ditangkap merupakan target operasi yang selama ini diincar. Berdasarkan hasil penyelidikan, wanita tersebut diduga juga mengedarkan sabu-sabu ke dalam lingkup narapidana di Lapas Kedungpane, Semarang. ”Kami masih terus melakukan pengembangan,” katanya. (mg5/ida/ce1)