SEPI TANGKAPAN: Nelayan di Kelurahan Karangsari dan Bandengan, mengeluh karena hasil tangkapan ikan sedikit. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SEPI TANGKAPAN: Nelayan di Kelurahan Karangsari dan Bandengan, mengeluh karena hasil tangkapan ikan sedikit. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SEPI TANGKAPAN: Nelayan di Kelurahan Karangsari dan Bandengan, mengeluh karena hasil tangkapan ikan sedikit. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Para nelayan di Kelurahan Karangsari dan Bandengan Kendal  mengeluh lantaran hasil tangkapan ikan sedikit. Bahkan tak sedikit nelayan yang enggan melaut selama dua pekan terakhir ini. Dari pantauan Radar Semarang, suasana tempat pelelangan ikan (TPI) di Karangsari dan Bandengan Rabu (15/10) kemarin tampak sepi.

Bahkan banyak perahu yang hanya bersandar di dermaga saja tanpa dioperasikan. Untuk mengisi  kekosongan, para nelayan memilih memperbaiki mesin perahu dan merajut jaring yang telah rusak. Sementara untuk mencukupi kebutuhan, nelayan memilih bekerja serabutan.

Salah satu nelayan, Maki Handoko, 47 mengatakan jika sudah beberapa pekan terakhir ini ia maupun nelayan lainnya tidak pergi melaut. Hal itu bukan lantaran karena ombak besar, melainkan karena tangkapan ikan di laut sepi. “Kalau gelombang laut masih normal, tidak terlalu besar karena musim kemarau. Mungkin karena kadar kehangatan dan angin laut yang kencang, sehingga ikan pada menjauh,” ujar Maki.

Ia mengaku, hasil tangkapan ikan tidak sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan nelayan. Baik untuk membayar tenaga, biaya solar dan biaya sewa perahu dinilai tidak mencukupi dari hasil yang diperoleh. “Sudah banyak mengeluarkan biaya untuk membeli solar yang tidak sedikit dan tapi hasil tangkapan ikan ternyata sedikit. Terpaksa nelayan memilih di rumah sambil menunggu suasana di laut membaik dan tangkapan ikan banyak lagi,” tuturnya.

Solichin, 42, nelayan lainnya mengaku jika pendapatan ikan saat melaut turun. Jika biasanya ia dapat 2-3 kwintal ikan. Dalam beberapa pekan terakhir ini hanya dapat 0,5-1 kwintal saja. “Jadi nelayan tidak mendapatkan keuntungan,” tuturnya.

Ahmad Maskuri, salah soerang petugas stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) Bandengan mengatakan jika pembelian solar sepekan terakhir sepi. Sehari hanya ada 7-10 nelayan saja yang membeli solar.

“Padahal biasanya bisa puluhan nelayan, bahkan setiap hari bisa antre pembelian solar karena saking banyaknya nelayan yang beli solar. Seminggu terakhir sedikit saja nelayan yang membeli solar dan tidak pernah antre,” tandasnya. (bud/ric)