25.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Giliran Hutan Gunung Sumbing yang Terbakar

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

MUNGKID– Kebakaran hutan kembali terjadi di wilayah Kabupaten Magelang. Setelah sebelumnya terjadi di Gunung Andong, kini api melalap 3 hektare hutan lindung di lereng Gunung Sumbing.
Kebakaran terjadi di hutan yang berbatasan dengan Desa Mangli, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Selasa (14/10). Ada dugaan kebakaran disebabkan oleh pembukaan lahan pertanian baru oleh warga sekitar.
Api mulai terlihat pada pukul 09.43 WIB, dan akhirnya berhasil dipadamkan pukul 12.30 WIB. Api diduga berasal dari aktivitas warga yang membakar rumput di lahan pertanian. “Yang terbakar semak belukar dan tanaman pinus,” kata Kepala Resor Pemanggu Hutan (RPH) Mangli, Perum Perhutani Ngateman, kemarin.
Dia mengatakan areal hutan yang terbakar berada di petak 3c2 di RPH Mangli. “Untuk vegetasi pohon pinus tidak terlalu banyak. Pohon-pohon ini ditanam pada tahun 1977,” katanya.
Menurutnya, ada dugaan api muncul akibat ulah warga. “Seusai panen tembakau, biasanya banyak warga membersihkan lahan dengan membersihkan rumput, alang-alang yang ada di sekitar sisa tanaman tembakau,” ujarnya. Kawasan hutan lindung tersebut bersebelahan dengan lahan pertanian milik warga Desa Mangli.
Api dan asap kebakaran tersebut, juga terlihat jelas oleh warga Desa Tonoboyo, Kecamatan Bandongan, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Gunung Sumbing.
Sebelumnya, kebakaran hutan lindung di kawasan Gunung Sumbing juga terjadi pada Kamis (9/10). Kebakaran terjadi di kawasan hutan lindung di petak 15b1 Resor Pemangku Hutan (RPH) Kacepit Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanggung, dengan luasan mencapai 1,5 hektare.
Di areal yang terbakar tersebut, terdapat sekitar 1.000 pohon, namun jumlah tegakan yang benar-benar habis atau rusak karena terbakar, masih akan didata lebih lanjut. Jenis tanaman rimba campur yang terbakar adalah tanaman yang ditanam tahun 2007, sedangkan pinus, ditanam pada tahun 1997.
Sementara itu, BKPH Temanggung memperketat pendakian gunung untuk menghindari kebakaran hutan yang rawan pada musim kemarau ini. Kebakaran hutan yang terjadi pada beberapa waktu lalu di Petak 15 D1, RPH Kacepit diduga merupakan tindakan para pendaki yang tidak hati-hati dalam membuat perapian.
“Kalau untuk menutup pendakian kan rasanya melarang banget. Itu kan olahraga, masak harus dilarang. Memang penguasaan atas hutan itu menjadi wewenang kami, jadi kami keputusannya tidak menutup pendakian, hanya memperketatnya,” kata Asisten Perhutani BKPH Temanggung, Cahyono.
Pendakian pada dasarnya tetap dibuka, khususnya di kawasan Sindoro dan Sumbing. Namun, ia berharap para pengelola di pos pendakian untuk lebih selektif dalam menyeleksi para pendaki. “Catat siapa yang naik, lalu KTP ditinggalkan di pos. Jadi dia naik lewat situ, turunnya lewat situ lagi, gampang kontrolnya kalau ada apa-apa,” katanya.
Ia juga meminta pengelola pendakian agar memberikan bekal tata cara membuat perapian yang aman kepada para pendaki. Membuat api di kawasan hutan lindung secara hukum merupakan larangan yang tidak boleh dilakukan, namun pengecualian diberikan kepada para pendaki dengan syarat tidak meninggalkan perapian begitu saja setelah digunakan. “Dimatikan sampai benar-benar tidak ada bara api yang tersisa,” katanya.
Selain itu ia juga meminta agar pendaki tidak membuang putung rokok sembarangan. Sebab pada musim kemarau banyak daun dan vegetasi campuran yang dapat dengan mudah tersulut api dan menjadi penyebab kebakaran. “Mungkin pendaki tidak sadar mereka asal membuang putung rokok dan menjadi penyebab kebakaran hutan. Untuk itu kami bekali agar kalau membuang putung dipastikan benar-benar sudah mati,” tambahnya.
Cahyono mengatakan, para pendaki sebaiknya menghargai hutan sebagai sebuah kekayaan yang perlu dilestarikan. Para pendaki juga diminta untuk menjaga alam agar kelestarian hutan tetap terjaga kelestariannya. “Kami sebagai pemangku hutan mempersilakan mereka memasuki wilayah kami, tetapi kami berharap agar menghormati hukum kami dengan menjaga hutan itu sendiri,” tandasnya. (vie/zah/ton)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -