SEMARANG – Produk pertanian dan holtikultura dari Jateng, sangat potensial sebagai komoditas ekspor. Permintaan produk tersebut dari luar negeri sangat tinggi, namun kapasitas produksi di Jateng sangat terbatas.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Panan dan Holtikultura Jawa Tengah Suryo Banendro mengaku, selama ini Jateng baru bisa memasok sekitar 20 persen dari permintaan. Jateng mengirim komoditas holtikulura ke luar negeri melalui empat eksporter yakni Temanggung, Magelang, Solo serta Bandung. “Untuk ekspor volumenya pengiriman dua sampai empat kontainer untuk setiap eksporter per minggu,” tambahnya.

Pemprov Jateng terus mendorong petani holtikultura untuk meningkatkan hasil pertanian. Diakui peluang ekspor masih terbuka luas, mengingat permintaan dari luar negeri cukup banyak. Untuk produk holtikulura yang siap dikirim, harus memenuhi standar kualitas, kuantitas dan kontinuitas. “Saat ini memang salah satu kendala, karena masalah iklim dan generasi muda yang enggan menggeluti dunia pertanian. Padahal pangsa masih terbuka lebar. Pemprov akan terus mendorong untuk menghasilkan produk yang berkualitas,” bebernya.

Provinsi Jawa Tengah saat ini sedikitnya mengekspor 17 hasil komoditas holtikutura di beberapa negara. Komoditas yang diekspor meliputi buah-buahan dan sayur-sayuran. Berbagai komoditas ini merupakan hasil produk unggulan di Jateng. Mulai dari Kopeng, Magelang, Kabupaten Semarang, Temanggung hingga Dieng Wonosobo.

Suryo Banendro mengatakan, berbagai komoditas holtikultura dikirim ke sejumlah negara. Seperti Singapura, Hongkong, China, Malaysia serta Uni Emirat Arab. “Ada 17 komoditas holtikultura yang kami kirim ke luar negeri. Ini merupakan kebanggan bagi Jawa Tengah,” katanya.

Komoditas holtikultura yang diekspor di antaranya cabe, kentang, buncis, lobak, salak, cold an alpukat. Untuk Bunga melati bahkan Jateng merajai pasar Malaysia, Singapura, Thailand dan India. “Yang kita ekspor semua bebas bahan kimia pestisida. Untuk produk yang diekspor sudah memenuhi standar sertifikasi dan semua menggunakan bahan-bahan organik,” imbuhnya.

Sebelum dikirim, barang harus melalui prosedur sortir yang cukup ketat. Para petani holtikultura dilatih dengan pemberdayaan sekolah ekspor. Mulai dari budidaya good agricultur practice (gap), mampu membaca MoU dengan pihak eksportir serta memahami spek komoditas yang dikirim. “Jika permintaan buncis misalnya panjangnya 15 cm ya harus segitu, tidak boleh dikurangi atau ditambahi. Ini kan perlu pelatihan dan pendampingan yang bagus,” tambahnya. (fth/smu)