DEMAK – Kejaksaan Negeri (Kejari) Demak hingga kini masih menunggu gelar perkara atau ekspose terkait proyek percepatan pembangunan infrastruktur daerah (PPID), utamanya proyek pembangunan talud penahan abrasi di Dukuh Timbulsloko dan Bogorame, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung.

Kajari Demak Nur Asiyah SH melalui Kasipidsus Dody SH mengungkapkan, penanganan kasus tersebut berlangsung cukup lama lantaran sebelumnya masih menunggu proses penghitungan kerugian dari BPKP. Hasil pemeriksaan yang dilakukan BPKP menyebutkan, bahwa kerugian proyek talud di dua lokasi mencapai Rp 296 juta (sekitar 25 persen) dari total nilai proyek sebesar Rp 844 juta. Dana tersebut diantaranya mengalir dari rekanan atau asosiasi ke salah satu tersangka yakni AK. AK sebelumnya mengklaim berperan sebagai “penggotek proyek”.

“Jadi, sebelum ada proses lanjutan, maka kita lakukan ekspose dulu. Sebelumnya kita menunggu audit BPKP selama 1 bulan. Audit ini agak kelamaan dan sekarang ini baru turun,” katanya. Dody SH menambahkan, setelah hasil audit ini turun pihaknya kemudian melengkapi proses pemberkasan perkara. Bulan depan, kata dia, akan ditentukan apakah sudah layak P21 (lengkap) atau belum. “Bila nanti sudah P21, maka segera kita limpahkan ke pengadilan tipikor,” jelasnya. (hib/ric)