SEKAYU – Melalui sebuah foto, sebuah objek bisa terlihat apik dan menarik. Bahkan dari sebuah foto dapat mengundang rasa empati, takjub, dan rasa memiliki. Itulah yang digunakan Semarang Photography Event (SPE) untuk mengangkat batik sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

Bertepatan pada hari batik Nasional, SPE mengadakan Pameran Batik Nusantara melalui foto dan mengadakan photo sharing tentang perspektif fotografi batik, di Paragon Mal, kemarin (13/10).

Ketua Panitia Pameran Batik Nusantara, Andi Sportax mengakui jika kurangnya pemahaman tentang pembuatan batik maupun keistemewaan batik membuat hasil jepretan kurang maksimal. ”Sering kita jumpai fotografer sering hunting foto tentang pembuatan batik. Tapi hanya sekadar hunting, karena mereka hanya mengejar foto model, landscape maupun human interest. Padahal pembuatan batik jika difoto dengan sabar akan menghasilkan karya seni yang tinggi,” katanya usai sharing foto dengan tema Keistemawaan Batik Lasem Melalui Perspektif Fotografi.

Sharing foto ini sendiri bertujuan untuk mengedukasi para fotografer muda tentang seni fotografi yang ada pada proses pembuatan batik. ”Selain kita sharing tentang teknik pengambilan gambar, secara tidak langsung kita juga mengampanyekan gerakan cinta batik. Sehingga generasi muda bisa tahu bagaimana susahnya membuat sehelai kain batik yang biasanya dianggap remeh,” ujarnya.

Sementara itu, Pembicara Sharing Foto Rahman Hakim, mengatakan jika materi yang diberikan dalam seminar tersebut adalah cara dan teknik menghasilkan gambar dengan karya seni tinggi. ”Batik merupakan kain dengan cara pembuatan yang cukup rumit yang banyak dijadikan objek foto,” paparnya.

Dicontohkan adalah kelemahan pada pengaturan pencahayaan yang digunakan, dan objek foto yang disasar masih banyak mengalami kesalahan dan terkesan monoton. Pihaknya berharap dengan adanya sharing foto ini, rasa kecintaan generasi muda terhadap batik bisa bertambah. Sehingga para pemuda mau menggunakan kain yang merupakan warisan budaya nenek moyang. (den/zal/ce1)