Oleh : Djawahir Muhammad

BELUM lama ini kita mendengar niat Pemerintah Kota Semarang untuk mengaktifkan kembali jalan inspeksi sepanjang kiri kanan Kali Semarang. Disebut jalan inspeksi karena fungsi jalan di sepanjang kali atau sungai itu adalah untuk memfasilitasi petugas guna membersihkan sungai dari sampah, mengeruk lumpurnya atau membebaskan kakisu (kanan kiri sungai) dari bangunan. Nah, sebagaimana kita ketahui, kondisi sungai atau Kali Semarang sekarang memang sungguh payah: sampah yang menumpuk bersama lumpur membuat sungai menjadi dangkal, ditambah munculnya pulau-pulau kecil akibat sedimentasi yang berlangsung sepanjang waktu.

Sementara di kanan kiri sungai tumbuh bangunan-bangunan liar, menjadi semacam permukiman yang membatasi fungsinya sebagai jalan inspeksi. Akibatnya jelas, Kali Semarang yang semula airnya bersih dan mengalir dengan deras ke laut menjadi dangkal. Bahkan menjadi semacam tong sampah raksasa tempat membuang segala jenis limbah. Sementara jalan inspeksi di kiri kanannya berubah fungsi menjadi perumahan (setengah) liar!

Tapi nanti dulu : sebelum melanjutkan, bolehnya kita bertanya apakah pembaca tahu di mana hulu Kali Semarang dan di mana hilirnya? Apakah bersumber pada sebuah mata air, dan di mana letaknya? Jawabnya, dari observasi lapangan yang saya lakukan tahun lalu, ternyata hulu Kali Semarang tidak berasal dari sebuah sumber air semisal Kali Bengawan Solo yang mata airnya bersumber di Pegunungan Seribu. Melainkan bersumber dari air Kaligarang yang dialirkan melalui pintu air di Kelurahan Barusari, atau tepatnya di sisi kanan Pleredan. Dari sana air mengalir melalui dua saluran di kiri kanan Jalan Dr Soetomo. Sebagian besar air mengalir melalui sungai di belakang Pasar Bunga Wonosari (di bawah bukit Bergota), berlanjut ke saluran di belakang gedung Lawang Sewu, Kampung Batanmiroto, Kampung Sekayu, Jagalan, Pecinan, Mberok, Jalan Layur, dan berakhir di Kalibaru (pelabuhan lama Semarang yang di kanan kirinya terdapat sejumlah gudang semisal gudang veem Marabunta).

Pada zaman Belanda, ketika Kali Semarang masih terawat dengan baik dan airnya dalam, sungai ini menjadi salah satu urat nadi perekonomian. Sungai ini dapat dilayari kapal jenis kecil semisal tongkang atau sekunar hingga jauh ke pedalaman misalnya sampai ke daerah Pedamaran, sebuah pasar yang memperdagangkan hasil bumi, antara lain kapur barus dan damar. Pada tahun-tahun kejayaan kerajaan gula Oey Tiong Ham (antara 1850–1900), di kanan kiri Kali Semarang terdapat gudang-gudang penyimpanan gula milik taipan gula tersebut. Di sungai ini tongkang dan sekunar mengangkut gula dan komoditas lainnya untuk dilangsir ke gudang-gudang besar di bandar pelabuhan Semarang sebelum dikirim ke berbagai benua.

Kali ini juga menjadi medium transportasi pedagang lokal misalnya Tasripien Concern untuk menggunakan perahu-perahunya mengirimkan komoditasnya –terutama kulit- ke berbagai tujuan. Bekas-bekas tambatan perahu milik Tasripien maupun gudang-gudang dan tongkang-tongkang milik Oey Tiong Ham masih dapat ditemukan di beberapa lokasi, misalnya di ujung belakang Kampung Kulitan atau Kampung Kentangan yang berbatasan dengan kali/sungai tersebut.

Konon, sebelum pecahnya Geger Pecinan (1740–1743) dan orang-orang Tionghoa dikonsentrasikan ke wilayah ini, lebar Sungai Semarang mencapai 60-an meter. Lebar sungai perlahan-lahan berkurang seiring terjadinya sedimentasi dan hilangnya sumber-sumber air yang menjadi bagian hulu sungainya di masa lalu. Kini lebar Sungai/Kali Semarang lk. hanya 16–20 meter, dan permukaan airnya tidak lebih dari 50 cm. Jalan inspeksinya kalau dihitung mulai dari belakang gedung Lawang Sewu sampai ke Jembatan Tikungbaru (Kalibaru) lebih kurang sepanjang 5 km, atau kalau dihitung sampai ke gudang Marabunta bisa mencapai lk. 6 km. Suatu jarak yang cukup panjang jaraknya dan cukup banyak menyimpan realitas sejarah.

Pada tahun 2000, di tengah sungai tersebut dibangun sebuah tiruan/replika kapal Cheng Ho, tepat di depan Kelenteng Tay Kak Sie. Di atas replika kapal ini, pernah berlangsung upacara memperingati 500 tahun pendaratan Laksamana Kerajaan Tiongkok di Semarang. Setiap tahun baru Imlek ada juga kegiatan pentas seni di sana. Namun sayang, karena dianggap mengganggu kelancaran arus sungai, replika ini harus dibongkar.

Pada tahun 2006 juga pernah muncul gagasan untuk mengeruk lumpurnya dan menjadikan Kali Semarang sebagai objek wisata air. Wakil Wali Kota Semarang, Machfud Ali bersama sejumlah relawan berbasah ria mengarungi airnya yang dangkal dengan perahu karet. Sayang ide yang cemerlang ini juga gagal terlaksana.

Dan tahun ini (2014) muncul proyek mengaktifkan jalan inspeksi di kanan-kiri alur Kali Semarang dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan kegiatan ini sudah mulai dilaksanakan. Pertanyaannya: apakah lokasinya sudah tepat? Mengapa jalan inspeksinya yang direhab, bukan Kali Semarang-nya yang dikeruk lumpurnya?

Entahlah, Pemerintah Kota Semarang pasti punya alasan yang tepat. Tapi, pertanyaan ini bukanlah mengada-ada dan cukup logis diajukan mengingat nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai manfaat Kali Semarang bagi perkembangan masyarakat dan kota ini. Salam ! (*/ida/ce1)