Relawan Peduli Media

94

MUGASSARI – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng mencanangkan gerakan 1 juta relawan peduli media. Relawan ini sebagai bentuk kontrol dan pengawasan berbagai program siaran di berbagai media. Masyarakat dilibatkan langsung, karena sekarang ini mulai banyak program media yang tidak mendidik. Lebih mengedepankan bisnis, berbau pornografi dan tidak ada nilai edukasi.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng, Budi Setyo Purnomo mengaku resah dan prihatin dengan berbagai program siaran. Banyak program yang tidak mengedepankan edukasi bagi generasi muda. Ironisnya, yang lebih parah, kartun atau film anak-anak banyak yang mengajarkan kekerasan. ”Dengan jumlah petugas KPID yang minim, tidak mungkin kami bisa maksimal untuk mengawasi semua program di media. Makanya kami membentuk 1 juta relawan di Jateng,” katanya.

Relawan itu, merupakan gabungan dari sejumlah elemen masyarakat di Jateng. Ia menegaskan, sikap ini sebagai teroboson untuk mengajak masyarakat agar melek media. Bisa memilah dan memilih mana tayangan yang cocok atau tidak. Sehingga, nantinya benar-benar mampu mewujudkan siaran yang bermutu dan bermartabat. ”Masyarakat harus pandai dan cerdas, untuk memetakan mana siaran yang bagus dan mendidik dan mana yang tidak,” imbuhnya.

KPID Jateng selama ini bukan tinggal diam menyikapi berbagai program media yang melanggar. Teguran, dan sanksi sudah diberitakan, tapi nyatanya kondisi tidak jauh berubah. Film kartun Spong boob misalnya, berbagai adegan di dalamnya lebih mengedepankan kekerasan, tidak mendidik dan komunikasi dengan kata-kata yang kotor. ”Banyak program yang tanpa disadari tidak mendidik. Makanya kami mengajak masyarakat untuk kritis. Jika ada pelanggaran laporkan ke KPID Jateng,” tambah Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Jateng, Setiawan Hendra Kelana.

Sejak 2014, KPID Jateng sudah mencekal 43 lagu untuk tidak disiarkan. Berbagai lagu karena berbau seks bebas, pornografi, cabul, dan tidak mendidik. Lagu Hamil Duluan yang dipopulerkan Tuty Wibowo misalnya, syairnya menyarankan seks bebas. ”Lagu itu sudah harus dihapus dan tidak boleh diputar. Jika masih pasti akan diberikan sanksi sampai pencabutan izin siaran program,” tegasnya. ”Kami sudah mengajukan dua radio di Jateng untuk pencabutan izin penyiaran. Karena sudah sering diberi peringatan dan sanksi tapi tetap tidak berubah,” tambahnya. (fth/zal/ce1)