Temukan Paru Hewan Bernanah

244
CACING HATI - Drh Liza Atika Purwandani menunjukan hati hewan kurban yang dipenuhi cacing hati. (ADI MULYADI/RATEG)
CACING HATI - Drh Liza Atika Purwandani menunjukan hati hewan kurban yang dipenuhi cacing hati. (ADI MULYADI/RATEG)
CACING HATI – Drh Liza Atika Purwandani menunjukan hati hewan kurban yang dipenuhi cacing hati. (ADI MULYADI/RATEG)

TEGAL – TIM pelaksana post mortem Dinas Kelautan dan Pertanian (Dislatan) Kota Tegal menemukan paru – paru hewan kurban yang bernanah. Kuat dugaan hewan kurban tersebut menderita sakit pneumonia (radang paru-paru).
“Kami menemukan satu kambing kurban yang paru – parunya bernanah. Karena itu, langsung kami pisahkan untuk dimusnahkan,” katanya Kasi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dislatan, Drh Liza Atika Purwandani saat melakukan post moterm hewan kurban di halaman Dinas Permukiman dan Tata Ruang (Diskimtaru) Kota Tegal, Minggu (5/10).
Liza mengatakan, hewan kurban dengan paru – paru bernanah itu merupakan satu dari 44 ekor kambing dan domba kurban yang dititipkan di Masjid Agung. Menurut dia, di lokasi pemotongan yang sama, juga ditemukan cacing hati pada satu sapi dan dua kambing. Selain itu, juga terdapat kambing dan domba betina yang usianya maksimal 3 tahunan (produktif) dijadikan hewan kurban. Jumlahnya mencapai 20 persen dari total kambing dan domba yang di kurbankan di Masjid Agung.
Liza mengaku, selain memusnahkan hati hewan kurban yang bercacing. Dia juga memberikan sosialisasi kepada panitia kurban di Masjid Agung ihwal cirri – ciri cacing hati dan paru – paru hewan yang rusak. Apabila ditemukan, Liza meminta panitia untuk memisahkan dan memusnahkannya.
Tidak hanya itu, disosialisasikan pula Undang-Undang No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pada pasal 18 ayat (2) disebutkan, bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik, kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan.
Apabila itu dilanggar, sambung dia, ada sangsi hukumnya. “Kami sosialisasi ke panitia, kalau bisa jangan terima kurban betina. Namun alasan dari panitia, katanya panitia susah karena cuma menerima. Sementara ada kaum yang sukanya kurban hewan betina lantaran daging banyak, bau prengusnya tidak begitu, dan lebih murah harganya,” jelas dia. (adi/jpnn/sas)