ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU GADUNGAN: Tersangka Slamet Sunardi yang ditangkap polisi karena melakukan praktik aborsi.

ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU GADUNGAN: Tersangka Slamet Sunardi yang ditangkap polisi karena melakukan praktik aborsi.
ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU
GADUNGAN: Tersangka Slamet Sunardi yang ditangkap polisi karena melakukan praktik aborsi.

TEMANGGUNG–Berniat menggugurkan kandungan, Sukrimi, 32, akhirnya harus mendekam di balik jeruji besi Mapolres Temanggung. Tidak sendirian, perempuan warga Jumo ini ditangkap bersama seorang ‘dokter’ yang membantu Sukrimi menggugurkan kandungannya. Dokter gadungan yang diketahui bernama Slamet Sunardi, 69, warga Dusun Mento Bawang RT 02 RW 01, Desa Mento, Kecamatan Candiroto ini diduga merupakan seorang dukun yang kerap menggugurkan kandungan.
Penyidik Satreskrim Polres Temanggung Ipda Juwandi mengatakan, dari penyidikan diketahui aborsi dilakukan pada 5 September 2014 di Dusun Pandean, Desa Morobongo, Kecamatan Jumo. Lalu karena ada kegagalan maka diulangi lagi tapi malah terjadi pendarahan.
“Berawal dari pendarahan itu pelaku aborsi dibawa ke sebuah rumah sakit, lalu dari sinilah terkuak ada praktik aborsi, karena ada laporan ke kami. Maka kami interogasi pelakunya dan akhirnya terungkap melakukan aborsi di dukun Slamet yang kemudian kami amankan,” katanya.
Selain dua orang tersebut polisi juga meminta keterangan dua orang lainnya yang diduga mengetahui kronologi aborsi, yakni Irwanto, 53, warga Desa Paponan, Kecamatan Kledung dan seorang dukun bayi Muntheng, 73, warga Desa Caturanom, Kecamatan Parakan.
“Bisa jadi nanti akan ada tersangka lain. Kami masih melakukan pengembangan kasus ini. Pengakuan tersangka akan kita hubungan dengan keterangan saksi-saksi,” tuturnya.
Slamet mengaku telah melakukan praktik aborsi sejak tahun 2012. Dia belajar praktik aborsi sejak tahun 1998 saat menjadi sopir pribadi seorang warga Belanda bernama Helen Erlina di Ambon. Dari Helen, yang menurut pengakuan Slamet kerap melakukan praktik aborsi, dia belajar hal itu.
“Saya baru lima kali melakukan pengguguran kandungan, dengan usia kandungan 3-4 bulan pasiennya rata-rata usia muda, ada yang kalangan pelajar sampai orang dewasa. Setiap menggugurkan saya mendapat uang antara Rp 1 juta sampai Rp 5 juta,”katanya.
Dukun aborsi ini melakukan praktik dengan cara menyuntikkan campuran berbagai obat yang telah diramu ke dalam rahim pasien aborsi. Barang bukti yang berhasil diamankan berupa 20 butir pil B12 IPPI 50 mg, satu buah tensimeter digital, satu buah obeng kurus lancip, gunting, obat cair syintocinor, pitogin, jarum suntik, pembalut, dan dua helai kain.
Tersangka dijerat pasal 194 jo 75 Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, subsider pasal 348 KUHP, lebih subsider pasal 299 KUHP. Ia dijerat pula dengan pasal 346 tentang pengguguran kandungan dengan ancaman hukuman empat tahun penjara. (zah/ton)