MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU DAGANGAN TERSISA: Sejumlah pedagang hanya bisa pasrah ketika sebagian besar barang dagangannya ludes jadi abu.
MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU DAGANGAN TERSISA: Sejumlah pedagang hanya bisa pasrah ketika sebagian besar barang dagangannya ludes jadi abu.
MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU
DAGANGAN TERSISA: Sejumlah pedagang hanya bisa pasrah ketika sebagian besar barang dagangannya ludes jadi abu.

SAMBIL terus berbicara melalui telepon selulernya, Santoso, 36, mengambil langkah seribu. Wajahnya tampak panik. Napasnya pendek-pendek.
Tanpa mempedulikan sekelilingnya, warga Borobudur Kabupaten Magelang ini lantas mencari saudaranya yang kebetulan menjajakan dagangan di sentra kerajinan dan makanan komplek wisata Borobudur. Lokasi yang disebut warga pasar Ulo itu, kemarin terbakar hebat.
Ratusan kios ludes terbakar. Wajah Santoso makin menunjukkan kepanikan ketika melihat kepulan asap hitam membumbung di udara.
Tak berselang lama, dia bertemu Rokhiyati, 40, saudaranya. Tanpa banyak bicara dia membantu mengamankan pakaian-pakaian yang mayoritas bergambar Candi Borobudur. “Saya punya satu kios pakaian. Untung sebagian bisa saya selamatkan,” kata Rokhiyati.
Dia sedikit beruntung dibanding teman-teman sesama pedagang lainnya. Banyak pedagang yang tak sempat menyelamatkan barang dagangannya.
Beda halnya dengan Kelik, 36, pedagang lainnya. Dia punya tiga kios di sana. Semuanya tak terselamatkan. “Tempat saya terkena paling awal,” kata warga Borobudur ini.
Dalam sekejap modal usahanya bertahun-tahun lenyap begitu saja. Hanya uang hasil jualan tiga hari yang terselamatkan.
Bagi para pedagang, kebakaran ini menjadi pukulan telak. Akan banyak yang memulai lagi usahanya dari nol. “Ya mungkin utang lagi,” ungkapnya.
Setiap hari, pedagang ini hanya menghadang rezeki pengunjung Borobudur. Pengelola menempatkan mereka di jalur keluar. Kini, mereka hanya berharap pasar ini tak sengaja dibakar. Karena banyak kasak kusuk jika kebakaran ini erat kaitannya dengan rencana pengelola menata pedagang.
Ya, masalah pedagang memang menjadi persoalan serius pengelola yang selalu muncul setiap tahunnya. Bahkan seringkali jadi konflik.
Jumlah pedagang di Candi Borobudur dinilai overload, membuat pengunjung tak nyaman. Maka pengelola mendesak harus segera ditata. Supaya rapi dan enak dipandang mata. Sebelum kebakaran ini, para pedagang sudah didata nama, alamat serta jenis usahanya.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Direktur Operasional PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Retno Hardiasiwi mengatakan pendataan memang rutin dilakukan setiap tahunnya. “Untuk update data saja,” katanya.
Apa benar akan dilakukan penataan pedagang ? “Penataan itu kan merupakan agenda rutin, supaya enak dipandang mata dan tidak mengganggu wisatawan,” katanya.
Retno menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada kepolisian. Ia juga berharap semua pedagang bisa kembali bekerja.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Yogyo Susaptoyono meminta polisi menuntaskan kasus kebakaran ini. “Saya juga berharap kepada pemerintah ikut memperhatikan karena para korban adalah warga Kabupaten Magelang,” katanya. (vie/ton)